📝فائدة مجلس سماع صحيح مسلم ٢
📝Faidah Majlis Samâ Shahih Muslim 2

Ketika sampai hadits tentang qunut, Syaikh Hâmid Al-Bukhary jelaskan bahwa para imam khilâf tentang qunut, tentang letaknya dan pada shalat apa disyari’atkan :

1. Pada shalat Subuh sebelum ruku’, ini adalah pendapat Imam Mâlik
2. Pada shalat Subuh setelah ruku’, ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i
3. Pada shalat Witir sebelum ruku’, ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah
4. Pada shalat Witir setelah ruku’, ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal

Sebagian kaum muslimin, bahkan di negeri yang bermazhab Asy-Syafi’i sendiri ada yang mengatakan bahwa qunut Subuh adalah bid’ah, padahal mazhab tsb ada dalilnya dan wajhul istidlalnya, di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih nya, Anas bin Mâlik pernah ditanya :
Apakah Rasulullah صلى الله عليه وسلم qunut pada shalat Subuh, dijawab : “Ya, pada shalat Subuh setelah ruku’ sejenak”

Begitu pula para Imam yang lainnya memiliki dalil tersendiri dan wajhul istidlalnya masing-masing, lalu Syaikh Hâmid lanjutkan bahwa seseorang yang hanya mengetahui 1 pendapat dan baru mengetahui dalil dari pendapat tsb saja, biasanya akan langsung menganggap pendapat lainnya sebagai bid’ah atau kesesatan maka hendaknya seorang thalib memperluas ilmunya dan berlapang-dada sebagaimana para Imam terdahulu berlapang-dada dalam masalah khilâf.

Di kali yang lain, Syaikh Hâmid kembali ditanyakan, bukankah bid’ah nya qunut Subuh adalah dalilnya, yakni riwayat Abu Mâlik Al-Asyja’iy yang bertanya kepada ayahnya tentang qunut Subuh, lalu sang Sahabat yang memang pernah shalat di belakang Nabi صلى الله عليه وسلم jawab bahwa itu adalah muhdats (baru/bid’ah) maka Syaikh Hâmid jelaskan bahwa permisalan ini sebagaimana riwayat Abdullah bin Umar dalam Shahih Muslim yang ketika ditanya kepadanya tentang Shalat Dhuha di masjid, lalu beliau jawab : Bid’ah

Syaikh Hâmid jelaskan dalam kaidah :

من حفظ حجّة على من لم يحفظ

“Barangsiapa yang hafal/mengetahui (di antara Sahabat tsb) maka ia menjadi hujjah bagi (Sahabat yang lain) yang tidak hafal/mengetahui”, yakni ketika ada Sahabat yang menetapkan Sunnah maka itu menjadi hujjah bagi Sahabat lain yang mengingkarinya.

Qultu : Masalah ini tak ubahnya seperti masalah isti’dzan yang diingkari oleh Umar رضي الله عنه namun diketahui oleh banyak Sahabat Anshar l, hadits wanita memotong/membatalkan shalat yang diingkari oleh Aisyah رضي الله عنها sedangkan hadits nya shahih diriwayatkan oleh Abu Dzar dalam Shahih Muslim m, Nabi صلى الله عليه وسلم pernah buang air kecil berdiri, diingkari oleh Aisyah رضي الله عنها namun diriwayatkan oleh Hudzaifah رضي الله عنه dalam Shahihain dll, Ibnu Abbas رضي الله عنهما awalnya berpendapat riba hanya riba nasiah dan tidak mengetahui adanya riba fadhl yang haditsnya.

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=805327176343806&id=100005995935102