(Dalil bahwa Allah tak bertempat)

Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Bukan sekali dua kali saya menemukan orang yang mengatakan bahwa mazhab akidah Ahlusunnah wal Jamaah yang ditopang oleh dua arus utama, yaitu Asy’ariyah dan Maturidiyah hanyalah aliran sesat yang argumennya akal-akalan. Mereka yang mengatakan ini semua punya kesamaan, yaitu: tak bisa menjawab dengan ilmiah tapi tak mau mengaku salah. Akhirnya ya hanya bisa bilang “ah…itu hanya akal-akalan” lalu mundur teratur dari dialog. Kalaupun dikejar argumennya, maka tetiba berubah 180 derajat menjadi sosok yang mengaku tak suka perdebatan, meskipun pada awalnya justru merekalah yang memicu perdebatan dengan cara kritik sana kritik sini seolah sudah siap dengan segala datanya.

Mungkin memang benar bahwa di kolong langit ini tak ada mazhab pemikiran yang seratus persen benar, tapi kalau mengatakan bahwa mayoritas ulama besar sejak era salaf hingga modern yang keilmuannya diakui dalam bidang tafsir, hadis, ushul fikh, fikih, tarikh, dan semua cabang ilmu keislaman sampai nahwu pun salah dalam memilih mazhab akidah, maka tentu klaim ini layak ditertawakan. Jumlah Ulama Asy’ariyah (atau setidaknya cocok dengan manhaj Asy’ariyah meski tak mengaku bermazhab Asy’ari) dalam semua bidang ilmu keislaman tak dapat dihitung atau disebutkan di dalam penelitian selama apapun. Bagi ada yang menganggap ini omong kosong belaka, silakan sebutkan satu saja ulama modern kaliber dunia yang sama sekali tak pernah mengambil ilmu dari kitab-kitab ulama Asy’ariyah! Merasa dirinya dan kelompok kecilnya paling mengerti teks agama sedangkan mayoritas ulama di dunia gagal paham semua adalah ciri khas orang bermasalah.

Tetapi memang benar bahwa dalam mazhab Asy’ariyah banyak ditemui argumen rasional melebihi yang dapat ditemui dalam mazhab lain yang minim analisis. Kenapa demikian? Sebab ujung pangkal semua perbedaan pendapat itu berada dalam wilayah pemahaman/pemikiran sedangkan pemahaman/pemikiran ini letaknya ada di kepala, bukan di dalam teks al-Qur’an dan Hadis, apalagi dalam buku manusia. Kalau “hanya” al-Qur’an saja, ya isinya 30 juz itu tak kurang tak lebih dan semua muslim tahu. Kalau “hanya” hadis, ya isinya di kitab-kitab hadis itu semuanya tak kurang dan tak lebih. Dengan bantuan Google atau software semisal Maktabah Syamilah atau Marja’ al-Akbar, kita semua sudah bisa menghimpun semuanya dengan lengkap. Tentunya harus menguasai bahasa Arab dengan sempurna atau minimal hampir sempurna. Namun kalau “hanya” bahasa arab, cukup les dengan biaya beberapa ratus ribu hingga sedikit juta saja sudah cukup untuk membaca dengan lancar. Lebih mahal membeli I-phone daripada membeli sebuah keterampilan berbahasa. Lalu apa yang membuat spesial dan berbeda? jawabannya hanya satu: Kekuatan argumen dalam memahami teks al-Qur’an dan Hadis itu.

Semua boleh mengklaim golongannya, apapun itu, seindah apapun namanya, sebagai golongan yang punya kekuatan argumen terkuat. Tapi kalau kita mau melihat sejarah Islam selama empat belas abad secara objektif, maka Mazhab Ahlussunnah yang dimotori Asy’ariyah-Maturidiyah adalah mazhab yang teruji mengungguli mazhab mana pun dalam medan perdebatan ilmiah. Itulah sebabnya mazhab ini dipilih para tokoh besar dari semua disiplin ilmu hingga menjadi mazhab mayoritas. Kalau masih menganggap ini isapan jempol belaka atau fanatisme saya, silakan sebut satu saja ulama modern kaliber dunia yang sama sekali tak pernah menimba ilmu dari kitab-kitab Ahlussunnah yang sehaluan dengan Asy’ariyah dan Maturidiyah!

Sedikit contoh praktis, Allah berfirman ليس كمثله شيئ (tak ada satupun yang serupa dengan Dirinya). Ayat ini diimani oleh semua orang islam dari semua golongan. Hanya orang-orang yang kurang baca, yang hidup dalam tempurung, yang melihat dunia hanya dari sedotan, yang hanya baca beberapa bacaan tapi merasa sudah jadi penemu ilmu pengetahuan baru, yang berkata bahwa ada umat Islam yang mengingkari ayat tersebut! Hal yang sama juga berlaku pada ayat lain semisal أأمنتم من في السماء (apakah kamu merasa aman dari Yang di langit) atau ayat الرحمن علي العرش استوى (Dzat yang Maha Rahman beristiwa atas Arasy) dan seluruh ayat lain dalam al-Qur’an yang 30 juz itu. Hal yang sama persis juga berlaku terhadap semua hadis shahih yang sampai pada kita. Semua muslimin sepakat bahwa ayat atau hadis tersebut benar adanya dan wajib diyakini. Kalau ada yang berkata misalnya “Golongan itu tak mengimani ayat ini dan ayat itu” tanpa punya bukti konkrit yang bisa dipertanggungjawabkan, maka itulah orang bodoh dalam arti yang sebenarnya. Dari golongan merekalah biasanya para teroris yang [kebetulan] beragama Islam itu muncul. Yang diperdebatkan oleh orang-orang berilmu adalah bagaimana maksud dari ayat dan hadis itu? Bagaimana menguji konsistensi suatu pemahaman terhadap ayat atau hadis itu? Bagaimana membatasi teks yang umum? Bagaimana memperluas teks yang khusus? Bagaimana menyatukan teks yang seolah bertentangan? Bagaimana menyatukan teks dengan fakta sains modern? dan banyak lainnya. Itu semua dilakukan dengan akal, bukan dengan menampilkan satu dua ayat atau hadis lalu menarasikan terjemahnya. (Dalam dunia akademik, mahasiswa yang tahunya hanya menukil ayat atau hadis umum yang sudah diketahui semua orang dan menarasikan kembali terjemahnya sebagai argumen tanpa dibarengi analisis yang kuat atas ayat itu dan fakta yang mau dikomentari dengan ayat itu, hampir pasti disuruh merevisi tulisannya sebab kalau cuma seperti itu tak perlu repot-repot kuliah).

Perumpamaannya, al-Qur’an dan Hadis ibarat bahan mentah yang belum diolah. Semua bisa mengolahnya menjadi pemahaman apapun sesuai kecenderungannya. Orang baik-baik memakai al-Qur’an dan Hadis tetapi para teroris yang jahat itu juga memakai keduanya. Tak ada satupun sekte pemikiran Islam yang tak memakai al-Qur’an dan hadis. Orang-orang yang dikenal sebagai muslim liberal juga jangan dikira tak memakai al-Qur’an dan hadis. Bahkan para orientalis yang jelas non-muslim pun juga memakai al-Qur’an dan hadis untuk mengkritik ajaran Islam. Semuanya bisa mengaku berpedoman pada al-Qur’an dan Hadis tetapi yang membedakan adalah kemampuan mereka mempertanggungjawabkan pemahaman terhadap keduanya. Jadi, orang yang kerjaannya hanya menampilkan bahan mentah ini tanpa mampu mempertahankan pemahamannya menandakan dirinya masih level pemula yang tak tahu bagaimana mengolah ayat dan hadis menjadi bentuk pemahaman yang utuh.

Maka dari itu, saya sering merasa “gimana gitu” ketika melihat dialog di mana sudah ditampilkan bagaimana hasil olahan para ulama terhadap kedua “bahan mentah” itu yang misalnya berkesimpulan “Allah ada tanpa tempat” (Allah tak menempati ruang) lalu ada yang dengan polosnya membantah hanya bermodalkan ayat istiwa’ atau ayat yang berisi kata “fis sama'” (di langit) lalu hanya bisa menarasikan lagi terjemahnya ke dalam kalimat yang sedikit lebih panjang. Ini sama seperti mendebat chef yang sudah meramu masakan lezat hanya bermodalkan pembahasan berisi mana yang namanya bawang merah dan bagaimana rasa bawang merah itu kalau dicampur bawang putih. Seakan membahas bagaimana kaidah aljabar di depan para programmer.

Maka dari itu, mereka yang pede hanya dengan mengutip “bahan mentah” itu cukup diladeni dengan pertanyaan-pertanyaan yang menantang konsistensi mereka saja, biasanya sudah pada kelabakan. Tetapi karena malu mengakui kesalahpahamannya, maka mereka bilang bahwa ini akal-akalan tak berdasar. Padahal dengan menunjukkan pertanyaan yang dapat meruntuhkan suatu kensepsi, itu saja sudah cukup membuktikan adanya dasar pemahaman yang kuat. Ingat, Nabi Ibrahim meruntuhkan akidah Paman dan pembesar negerinya hanya bermodalkan pertanyaan kritis saja. Mereka yang tak mampu menjawab kritik itu tapi gengsi mengaku salah bisanya hanya marah, ngusir, menyesatkan, nyuruh bakar.

Tapi jangan kira bahwa Asy’ariyah hanya bermodal logika, dasar teksnya juga banyak. Misalnya, apa yang menjadi dalil tekstual Allah tak bertempat/tak menempati ruang apapun?

1. Dalil pertama:
كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ. (بخاري)
“Allah sudah ada dan tak ada apapun selain Dia”.

Hadis shahih ini menegaskan bahwa Allah telah ada sebelum apapun. Di manakah Allah saat itu? Ini pertanyaan tak relevan sebab semua tempat belum tercipta saat itu. Apakah tidak bisa dikatakan bahwa sebelumnya Allah memang tak bertempat lalu kemudian menciptakan tempat lalu menempati tempat itu? Tentu tidak bisa, sebab ini tak ada dalilnya baik secara naqli atau aqli.

2. Dalil kedua:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ
[Surat Al-Hadid 3]
“Dialah Allah yang Maha Awal dan Maha Akhir, Yang Maha Tampak dan Maha Tak Tampak”.

Mengomentari ayat ini, Imam at-Thabary menjelaskan dalam tafsirnya :

وَهُوَ الْبَاطِنُ جَمِيعَ الْأَشْيَاءِ، فَلَا شَيْءَ أَقْرَبُ إِلَى شَيْءٍ مِنْهُ، كَمَا قَالَ: {وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ}
“Dia adalah yang Bathin terhadap segala sesuatu maka tak ada sesuatu yang lebih dekat kepada Allah dibanding sesuatu yang lain. Sama seperti firman Allah yang berbunyi “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat leher”.
Maksud Imam Thabary adalah Allah itu tak ada tempatnya sehingga tak ada barang yang bisa dibilang lebih dekat kepada Allah bila dibanding barang lain. Kalau Allah memang bertempat di atas, tentu awan lebih dekat kepada Allah daripada kita. Puncak gunung lebih dekat kepada Allah dari pada lembah, dan seterusnya. Pemahaman ini salah menurut ayat ini.

Dari hadis, Nabi Muhammad juga bersabda senada yang isinya:
اللهم أنت الأول فليس قبلك شيء وأنت الآخر فليس بعدك شيء وأنت الظاهر فليس فوقك شيء وأنت الباطن فليس دونك شيء} رواه مسلم في الصحيح.
“Ya Allah, Engkau adalah yang awal maka tidak ada sebelummu sesuatu apapun. dan Engkau adalah yang akhir maka tidak ada setelahmu sesuatu apapun. Dan Engkau adalah yang nampak maka tidak ada di atasmu sesuatu apapun dan engkau adalah yang tak nampak maka tidak ada di bawahmu sesuatu apapun”. (HR. Muslim)

Mengomentari hadis ini, imam al-Baihaqi berkata dalam kitabnya al-Asma’ was Shifat mengatakan:

الذي رُوِيَ في آخر هذا الحديث إشارة إلى نفي المكان عن الله تعالى, وأن العبد أينما كان فهو في القرب والبعد من الله تعالى سواء, وأنه الظاهر, فيصح إدراكه بالأدلة, الباطن فلا يصح إدراكه في الكون في مكان. واستدل بعض أصحابنا في نفي المكان عنه – أي عن الله عز وجل – بقول النبي صلى الله عليه وسلم(أنت الظاهر فليس فوقك شيء وأنت الباطن فليس دونك شيء) وإذا لم يكن فوقه شيء ولا دونه شيء لم يكن في مكان
“Yang diriwayatkan di bagian akhir hadits ini mengisyaratkan tiadanya tempat bagi Allah dan bahwa seorang hamba di manapun berada jaraknya sama saja dari Allah. Dia adalah ad-Dhahir (Yang nampak) sehingga bisa dimengerti dengan dalil. Tapi Dia juga al-Bathin (yang tak nampak) sehingga tak bisa dipahami berada di suatu tempat pun. Sebagian sahabat kami berdalil untuk menafikan adanya tempat Allah dengan hadis tersebut. Kalau di atasnya tidak ada sesuatu pun dan dibawahnya juga tidak ada sesuatu pun berarti Allah tidak ada di satu tempat pun”. (al-Asma’ wa al-Shifat).

3. Dalil ketiga adalah ayat muhkam yang disepakati bersama:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tak ada sesuatu pun yang serupa sedikitpun dengan-Nya”.

Ayat ini menafikan semua bentuk keserupaan secara mutlak. Seluruh alam yang kita kenal seluruhnya berisi materi yang bertempat dalam ruang. Bertempat berarti punya dimensi tertentu, massa tertentu, batasan tertentu dalam ruang tertentu. Bila Allah tak sama sedikit pun dengan apapun berarti tak mungkin Ia bertempat sebab yang bertempat pasti menempati ruang yang ruang itu sendiri harus lebih besar, lebih kokoh, dan ada sebelum keberadaannya atau paling tidak, ada bersamaan dengan diri-Nya dan tetap kekal bersama-Nya. Kesimpulan ini tentu bermasalah sebab berarti menduakan keberadaan Allah dengan ruang.

Sebagai Informasi, banyak filsuf yang mengatakan bahwa alam ini kekal tak bermula dan tak berakhir sebab pertimbangan di atas. Demikian juga Ibnu Taymiyah mengemukakan konsep “hawadits la awwala laha” ada hal-hal baru selain Allah yang tak berawal mula, juga untuk menjawab pertimbangan di atas. Konsepsi ini jelas menyimpang dari akidah yang benar sebab meniscayakan kebutuhan Allah terhadap hal di luar diri-Nya. Mereka yang mengatakan bahwa Sang Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah bukanlah ahli kalam dan hanya menetapkan apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rasulullah adalah orang-orang yang belum khatam membaca kitab-kitab Ibnu Taymiyah atau sedang pura-pura tak tahu.

Bagi yang mau berkata: “Kalau begitu maka kenapa sekalian tak menafikan adanya sifat wujud, sama’, bashar dari Allah? Bukankah Allah dan kita sama-sama wujud (ada), mendengar dan melihat?”, silakan stalking di wall saya. Tak perlu mengulang itu di sini.

4. Dalil keempat adalah ayat muhkam yang disepakati bersama:
ألله الصمد (Allah yang Maha Dibutuhkan)
فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (Sesungguhnya Allah Maha Tak butuh pada apapun selain Dirinya)
Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa ‘alam, yakni segala sesuatu selain Allah, selalu membutuhkan Allah yang menciptakan, mendesain, merawat dan menentukan segala sesuatu terkait keberadaannya. Sedangkan Allah sendiri sama sekali tak butuh semua itu dan keberadaannya tak tergantung pada semua itu atau dibatasi semua itu. Ruang dan waktu adalah salah satu ciptaan Allah yang didesain serta diatur cara kerjanya sesuai kehendak Allah tanpa sedikit pun Allah berada di dalamnya atau terpengaruh oleh keduanya. Allah telah ada sebelum semua itu ada dan tak berubah setelah semua ada dan terus ada setelah semua binasa.

Bila ada yang tak paham makna kata “butuh” di sini dan menganggapnya hanya sekedar butuh biasa, silakan baca postingan saya sebelumnya.

5. Dalil kelima adalah segala pengungkapan Allah akan lokasi dirinya yang berbeda-beda. Kadang diungkapkan seolah di atas langit, kadang seolah di bumi bersama kita dalam semua aktifitas kita, kadang seolah persis di depan kita, kadang seolah meliputi kita, kadang seolah lebih dekat dengan urat leher kita. Ini semua kalau dibaca secara objektif hanyalah sekedar ungkapan saja akan eksistensi Allah yang Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Dekat, Maha Mengetahui dan Maha Mengawasi.

Memaknai semua ungkapan tersebut, yang bertebaran dalam al-Qur’an dan Hadis, secara fisik merupakan kemustahilan dan penghinaan. Sedangkan membagi-bagi sekehendak hati dengan memahami seluruh dalil yang mengungkapkan seolah di atas sebagai lokasi Allah secara fisik sedangkan yang seolah di bumi sebagai ungkapan kiasan berupa ilmu dan pengawasan, adalah tindakan bid’ah yang tak ada satu pun dalilnya dari al-Qur’an dan hadis. Mereka semua yang ngotot berstandar ganda ini hanya mampu mendatangkan nukilan dari tokoh A, tokoh B, tokoh C dan seterusnya yang semuanya dikesankan tak mungkin salah seolah mendapat wahyu dari langit. Ironisnya, meraka yang biasanya mengharamkan taklid buta dalam hal remeh temeh yang seharusnya wajar kalau bertaklid malah getol mendakwahkan taklid buta dalam hal yang prinsip ini. Bahkan, hadis-hadis dla’if dan mungkar pun diborong semua sebagai dalil penguat asalkan bisa menguatkan taklid butanya. Kalau tak percaya, cek saja kualitas hadis dalam kitab al-Uluw li Aliyyil Ghaffar karya Imam adz-Dzahabi yang mereka bangga-banggakan dan selalu dinukil tak bosan-bosannya itu. (Meskipun sebenarnya tanpa mereka sadar, Imam adz-Dzahabi sendiri tak menetapkan tempat bagi Allah sebab beliau beraliran tafwidh sama persis dengan separuh Asy’ariyah).

Kalau memang mau memahami sabda Rasul secara literal tanpa ditakwil atau diproses dengan banyak dalil lain hingga pemahamannya utuh, maka kenapa tak sekalian saja sabda beliau dalam riwayat Imam Ahmad dan Turmudzi yang menjelaskan lapisan-lapisan bumi berikut ini dipakai:
لَوْ أَنَّكُمْ دَلَّيْتُمْ بِحَبْلٍ إِلَى الْأَرْض السُّفْلَى لَهَبَطَ عَلَى اللَّه
“Kalau kalian menjulurkan tali ke bumi yang paling bawah, maka niscaya akan jatuh menimpa Allah”. Dalam poin ini tak satu pun para penentang mazhab Ahlussunnah (Asy’ariyah dan Maturidiyah) bisa konsisten.

Sebenarnya masih banyak dalil lain yang bisa ditampilkan tetapi sayangnya tangan saya sudah mulai kriting. Silakan dibaca sendiri di kitab-kitab para ulama Asy’ariyah dan Maturidiyah. Toh percuma juga saya tulis semua hingga panjang bila hati dan akal pembaca tulisan ini sudah tertutup seperti tertutupnya hati dan akal Abu Jahal cs dari cahaya kebenaran. Tetapi bagi mereka yang mau berpikiran terbuka dan keluar dari tempurungnya, maka kadar ini sudah cukup sebagai petunjuk awal yang memicu perburuan petunjuk selanjutnya untuk lebih mengenal Allah Tuhan kita semua.

Hadanallah, Amin.