Jawaban terhadap Riwayat Qunut Shubuh adalah Bid’ah

Bila kita hanya mengandalkan satu riwayat hadits saja dan menanggalkan riwayat selainnya, yang jumlahnya lebih banyak, untuk menghukumi suatu amalan, maka hal tersebut merupakan kekeliruan yang besar.

Karena bila hal tersebut kita lakukan, maka mau tidak mau, suka tidak suka, harus memvonis bahwa amalan Shalat Dhuha adalah bid’ah. Sebagaimana yang diutarakan oleh Ibnu Umar:

عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ دَخَلْتُ أَنَا وَعُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ الْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ جَالِسٌ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَةَ وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ الضُّحَى فِي الْمَسْجِدِ فَسَأَلْنَاهُ عَنْ صَلَاتِهِمْ فَقَالَ بِدْعَةٌ

“Dari Mujahid ia berkata; Saya dan Urwah bin Zubair masuk Masjid, dan kami dapati ‘Abdullah bin Umar duduk di sisi kamar Aisyah sementara orang-orang sedang melaksanakan shalat Dluha di Masjid. Lalu kami bertanya kepada Ibnu Umar mengenai shalat yang mereka kerjakan itu, Maka Ibnu Umar pun menjawab: “Itu adalah Bid’ah.”

Namun demikian, dalam memahami suatu persoalan kita mesti melihat secara komprehensif, tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Sebagian orang hari ini ada yang ramai-ramai memvonis qunut Shubuh adalah bid’ah bermodalkan satu riwayat dari Abu Malik Al-Asyja’i:

أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي يَا أَبَةِ إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ هَا هُنَا بِالْكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ أَكَانُوا يَقْنُتُونَ قَالَ أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ

“Dari Abu Malik Al-Asyja’i ia berkata; “Aku pernah bertanya kepada ayahku, “Wahai ayah, sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wasallam, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali di Kufah ini sekitar selama lima tahun, maka apakah mereka membaca qunut?” ia menjawab, “Wahai anakku, itu adalah perkara baru.”

Padahal, telah tsabit dalam Shahih Muslim, bahwa Rasul melakukan qunut Shubuh:

عَنْ مُحَمَّدٍ قَالَ قُلْتُ لِأَنَسٍ هَلْ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ قَالَ نَعَمْ بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا

“Dari Muhammad katanya; aku bertanya kepada Anas; “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah qubut dalam subuhnya?” Anas menjawab; “Benar, sebentar setelah ruku’.”

Maka dari itu, Al-Imam At-Tirmidzi, setelah membawakan riwayat Al-Asyja’i kemudian mengutip pendapat para Imam Salaf yang memilih tidak qunut, namun tetap menganggapnya sebagai kebaikan:

“Sufyan Ats-Tsauri berkata; “Jika seseorang melakukan qunut dalam shalat subuh maka itu baik, jika tidak maka itu juga baik.” Dan Sufyan Ats Tsauri memilih untuk tidak melakukan qunut. Demikian juga Ibnu Al-Mubarak, ia tidak melakukan qunut dalam shalat subuh.”

Walaupun mereka memilih untuk tidak melakukan qunut Shubuh, namun tidak dengan serta merta mereka memvonis qunut Shubuh sebagai perbuatan bid’ah yang tercela. Apalagi sampai memvonis pelakunya sebagai Ahlul Bid’ah.

Karena dalam persoalan ini, para Ulama berbeda pendapat pada: “Apakah Rasul terus menerus qunut Shubuh atau tidak.”

Bukan pada: “Apakah Rasul qunut Shubuh atau tidak.”

Dan pernyataan Ibnu ‘Umar di atas yang menyatakan bahwa Shalat Dhuha adalah bid’ah, sangat mungkin dilontarkan disebabkan ketidaktahuan beliau. Dan dalam hal ini, banyak sekali contohnya bahwa sebagian Sahabat Nabi kadang tidak mengetahui sebuah syariat atau amalan sedangkan sebagian Sahabat yang lain mengetahuinya. Karena memang saat itu syariat masih turun secara bertahap, dan kondisinya berbeda dengan hari ini yang kita dapat menyebarkan dan bahkan memviralkan secara mudah sebuah informasi baru dalam waktu sekejap.

Masalah ini cukup banyak terjadi di kalangan para Sahabat, seperti Ummul Mu’miniin ‘A-isyah radhiyallaahu ‘anha yang mengatakan bahwa Rasul shalat malam hanya 11 rakaat, tidak kurang tidak lebih, baik di dalam atau di luar Ramadhan. Padahal, kenyataannya, kesaksian Shahabat yang lain menunjukkan bahwa Rasul kadang melaksanakannya kurang dari itu, yakni kadang 7 atau 9 rakaat,

dan kadang lebih dari itu, yakni 13 rakaat.

Hal ini mudah sekali dipahami, karena Bunda ‘A-isyah tidak tinggal setiap malam bersama Rasul. Rasul memiliki 9 orang istri yang bergantian dikunjunginya setiap malam. Artinya, Bunda ‘A-isyah hanya menyaksikan satu kali dalam setiap 9 malam yang dilalui Rasul, kecuali setelah jatah Bunda Saudah yang diserahkan sehingga jatah Bunda ‘A-isyah menjadi 2 malam dalam 9 hari. Sehingga wajar bila pada malam yang lain, terdapat kesaksian dari istri Rasul yang lain dan berbeda dengan apa yang disaksikan oleh Bunda ‘A-isyah.

Juga masalah bahwa Rasul pernah buang air kecil berdiri, pengharaman riba fadhl, dan pengharaman nikah mut’ah untuk selamanya. Sebagian Shahabat mengingkarinya karena ketidaktahuan, sedangkan Shahabat yang tahu menetapkannya. Karenanya, para Ulama mengenal kaidah:

من حفظ حجة على من لم يحفظ
“Siapa yang hafal, maka ia menjadi hujjah bagi yang tidak hafal.”

Kaidah inilah yang dijadikan sandaran dalam madzhab Syafii. Bahwa qunut Shubuh telah ditetapkan oleh sejumlah Shahabat, dan itu menjadi hujjah bagi sebagian Shahabat yang lain yang mengingkarinya.

Apalagi, tidak ada satupun nash yang shahih lagi sharih, bahwa Rasul meninggalkan qunut Shubuh. Bahkan, yang ada Rasul justru meninggalkan qunut selain Shubuh, dan adapun qunut Shubuh, maka beliau tetap melakukannya, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Al-Hakim.

Oleh karena itu Al-Imam Asy-Syafii mengatakan, “Adapun qunut pada shalat subuh maka (perbuatan itu) shahih dilakukan oleh Nabi pada peristiwa Bi’r Ma’unah dan juga setelah peristiwa itu. Tidak ada seorangpun yang meriwayatkan bahwa beliau meninggalkannya setelah itu.”

Wallaahu a’lam.

-Laili Al-Fadhli-
Semoga Allaah mengampuninya dan mengampuni keluarganya.

#faidahmajlissamashahihmuslim
#denganbanyaktambahan
#wadimubarak