Oleh:

Ulil Albab

Andaikata Ini Perbuatan Baik…

Wahabi memiliki kaidah: “Andaikata itu adalah perbuatan baik, maka para Sahabat akan mendahului kita untuk melakukannya”. Benarkah argumen itu? Dan bagaimana cara menjawabnya.

Jawaban:

Kalimat di atas bukan kaidah, tetapi sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Ibnu Katsir yang dijadikan argumen oleh Wahabi pada setiap masalah yang mereka tuduh bidah:

وَأَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ فَيَقُوْلُوْنَ فِي كُلِّ فِعْلٍ وَقَوْلٍ لَمْ يَثْبُتْ عَنِ الصَّحَابَةُ: هُوَ بِدْعَةٌ لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ، لِأَنَّهُمْ لَمْ يَتْرُكُوْا خَصْلَةً مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ إِلَّا وَقَدْ بَادَرُوْا إِلَيْهَا

Adapun Ahlusunnah wal jamaah berkata: “Setiap perbuatan dan perkataan yang tidak sahih dari Sahabat, maka itu adalah bidah. Sebab andaikata itu adalah perbuatan baik, maka para Sahabat akan mendahului kita untuk melakukannya. Sebab mereka tidak meninggalkan satu perbuatan baik, kecuali mereka akan bergegas melakukannya” (Tafsir Ibni Katsir 7/278)

Jawaban pertama, Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama tidak mengkhususkan kebaikan hanya ada di masa beliau saja. Bahkan Nabi memastikan kelak akan ada orang-orang yang lebih paham dengan hadis Nabi, seperti yang disabdakan oleh Nabi saat haji Wada:

لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ ، فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مِنْهُ

“Hendaklah orang yang hadir disini menyampaikan kepada yang tidak hadir. Sebab orang yang hadir ini boleh jadi menyampaikan kepada orang yang lebih mengerti dari pada dia” (HR Al-Bukhari)

Dari hadis ini Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:

وَفِي هَذَا الْحَدِيث مِنْ الْفَوَائِد – غَيْر مَا تَقَدَّمَ – الْحَثّ عَلَى تَبْلِيغ الْعِلْم وَأَنَّهُ قَدْ يَأْتِي فِي الْآخِر مَنْ يَكُون أَفْهَم مِمَّنْ تَقَدَّمَهُ لَكِنْ بِقِلَّةٍ ، وَاسْتَنْبَطَ اِبْن الْمُنِير مِنْ تَعْلِيل كَوْن الْمُتَأَخِّر أَرْجَح نَظَرًا مِنْ الْمُتَقَدِّم أَنَّ تَفْسِير الرَّاوِي أَرْجَح مِنْ تَفْسِير غَيْره

Diantara ilmu yang terdapat di dalam hadis ini adalah dorongan untuk menyampaikan ilmu…. dan bahwa kelak di masa akhir akan ada orang yang lebih faham dari pada orang terdahulu, namun sedikit. Ibnu Munir menggali dalil dari alasan orang di masa akhir lebih unggul pandangannya dari pada orang terdahulu, bahwa penafsiran Al-Bukhari lebih unggul dari pada penafsiran lainnya (Fath Al-Bari 1/107)

Ketika mensyarah hadis yang serupa, Syekh As-Sindi berkata:

أَيْ أَفْطَنُ وَأَفْهَمُ أَوْ أَكْثَرُ مُرَاعَاة لِمَعْنَاهُ وَعَمَلًا بِمُقْتَضَاهُ وَلَيْسَ الْمُرَاد الْحِفْظ اللِّسَانِيّ .

“Yakni kepada orang yang lebih cerdas, lebih paham, dan lebih banyak menjaga makna hadis serta mengamalkan kandungan hadis. Yang dimaksud disini bukan hafal secara perkataan” (Hasyiyah As-Sindi Ala Sunan Ibni Majah 1/216)

Sabda Nabi ini terbukti nyata dengan banyaknya ulama Mujtahid setelah masa Sahabat, termasuk lahirnya 4 Imam Ahlisunah wal Jamaah di bidang fikih.

Jawaban kedua, karena faktor perbedaan yang tidak pernah ditemukan solusinya, yaitu soal pembagian bidah. Bagi mereka semua bidah sesat, sehingga jika ada hal-hal baru yang tidak dijumpai di masa Nabi, langsung mereka vonis bidah. Sementara bagi ulama yang membagi bidah menjadi 2, hasanah dan sayyiah, maka tidak mengunci rapat hal-hal baru yang tidak bertentangan dengan hukum dan ajaran Islam.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mempertegas pembagian bidah oleh Syekh Ibnu Abdis Salam, yaitu bidah yang wajib, bidah yang sunah (dianjurkan), bidah yang haram, bidah yang makruh dan bidah yang boleh. Ketika menjelaskan Bidah Mandubah beliau memaparkan:

” وَالْمَنْدُوبَة ” كُلّ إِحْسَان لَمْ يُعْهَد عَيْنُهُ فِي الْعَهْد النَّبَوِيّ كَالِاجْتِمَاعِ عَلَى التَّرَاوِيح وَبِنَاء الْمَدَارِس وَالرُّبَط وَالْكَلَام فِي التَّصَوُّف الْمَحْمُود وَعَقْد مَجَالِس الْمُنَاظَرَة إِنْ أُرِيدَ بِذَلِكَ وَجْه اللَّه

(Bidah yang dianjurkan) yaitu setiap kebaikan yang bentuknya tidak ditemukan di masa Nabi, seperti berkumpul untuk Tarawih, membangun madrasah, pesantren, membahas Tasawuf yang terpuji, dan majlis diskusi ilmu jika untuk mencari ridla Allah.

Jawaban ketiga tentang Dalil Khusus dan Dalil Umum. Menurut mereka, melakukan sebuah amalan harus ada dalil secara khusus, tidak boleh dalil umum. Misalnya, untuk melakukan dzikir Istighatsah harus ada dalil khusus, kalau tidak ada maka bidah. Sementara menurut kita, masalah Istighatsah ini cukup menggunakan dalil-dalil umum tentang keutamaan dzikir dan majlis dzikir. Pendapat kita ini diperkuat oleh ahli hadis Al-Hafidz Ibnu Hajar:

وَالْمُرَاد بِقَوْلِهِ ” كُلّ بِدْعَة ضَلَالَة ” مَا أُحْدِث وَلَا دَلِيل لَهُ مِنْ الشَّرْع بِطَرِيقِ خَاصّ وَلَا عَامّ

Yang dimaksud dengan sabda Nabi “Semua bidah adalah sesat”, yaitu hal-hal baru yang tidak ada dalil dari Syari, baik dalil secara khusus maupun umum (Fath Al-Bari 20/330)

Berikut ini beberapa contoh kecil datangnya kebaikan yang tidak dijumpai pada masa-masa utama sebelumnya:

Mengumpulkan Al-Quran

Adalah sebuah kebaikan kitab Al-Quran terhimpun dalam 1 mushaf. Namun ini tidak terjadi di masa Nabi, justru di masa Sahabat. Sayidina Umar yang mengusulkan hal itu kepada Sayidina Abu Bakar;

قَالَ أَبُو بَكْرٍ قُلْتُ لِعُمَرَ كَيْفَ أَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ عُمَرُ هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ . فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِى فِيهِ حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ لِذَلِكَ صَدْرِى

Abu Bakar bertanya pada Umar: “Bagaimana aku melakukan hal yang tidak dilakukan oleh Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama (mengumpulkan Al-Quran)?” Umar menjawab: “Demi Allah, ini baik”. Umar selalu menyampaikan kepadaku hingga Allah melapangkan dadaku” (HR al-Bukhari)

Membukukan Hadis

Kitab-kitab hadis yang kita terima hari ini adalah sebuah kebaikan yang tak dapat dipungkiri oleh siapapun. Apakah kebaikan ini terjadi di masa Sahabat? Tidak. Justru setelah generasi Sahabat:

كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى أَهْلِ الْمَدِينَةِ : أَنِ انْظُرُوا حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَاكْتُبُوهُ ، فَإِنِّى قَدْ خِفْتُ دُرُوسَ الْعِلْمِ وَذَهَابَ أَهْلِهِ.

Umar bin Abdul Aziz (Khalifah Bani Umayyah) menulis surat untuk penduduk Madinah bahwa perhatikanlah hadis Nabi, lalu tulislah. Sebab aku khawatir ilmu hadis akan hilang dan ahlinya akan wafat (Sunan Ad-Darimi)

Doa Khatam Al-Quran Dalam Tarawih

Hari ini kita menyaksikan di Makkah dan Madinah melakukan doa khatam Quran di akhir Tarawih bulan Ramadlan, doa itu dilakukan dalam salat Tarawih. Padahal Nabi tidak pernah melakukan. Namun, hal baik ini justru dianjurkan oleh Mufti Arab Saudi:

هَذَا عَمَلٌ حَسَنٌ فَيَقْرَأُ الْإِمَامُ كُلَّ لَيْلَةٍ جُزْءًا أَوْ أَقَلَّ … وَهَكَذَا دُعَاءُ الْخَتْمِ فَعَلَهُ الْكَثِيْرُ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ ، وَثَبَتَ عَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ النَّبِي – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أنَّهُ فَعَلَهُ ، وَفِي ذَلِكَ خَيْرٌ كَثِيْرٌ وَالْمَشْرُوْعُ لِلْجَمَاعَةِ أَنْ يُؤَمِّنُوْا عَلَى دُعَاءِ الْإِمَامِ رَجَاءَ أَنْ يَتَقَبَّلَ اللهُ مِنْهُمْ

Khataman Quran saat Tarawih ini adalah AMAL YANG BAGUS. Maka imam membaca tiap malam 1 juz atau kurang… Juga membaca doa khatam sudah diamalkan oleh banyak ulama Salaf, Anas bin Malik melakukannya. Di dalamnya ada banyak kebaikan. Bagi makmum dianjurkan membaca Amin mengharap diterima oleh Allah (Majmu Fatawa Bin Baz 11/388)

Kesimpulan:

Ukuran perbuatan “baik” tidak sekedar dari masa dahulu, namun kebaikan yang ada dalam agama, seperti yang disampaikan oleh Imam Nawawi:

وَمِثْله مَنْ اِبْتَدَعَ شَيْئًا مِنْ الْخَيْر كَانَ لَهُ مِثْل أَجْر كُلّ مَنْ يَعْمَل بِهِ إِلَى يَوْم الْقِيَامَة ، وَهُوَ مُوَافِق لِلْحَدِيثِ الصَّحِيح : ” مَنْ سَنَّ سُنَّة حَسَنَة وَمَنْ سَنَّ سُنَّة سَيِّئَة ”

Demikian halnya, orang yang membuat bidah yang baik (tidak bertentangan dengan agama) maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya sampai kiamat. Hal ini sesuai hadis sahih: “Barangsiapa melakukan sunah yang baik. Dan hadis barang siapa yang melakukan sunah yang buruk” … (Syarah Muslim 6/88)

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=402569313553434&id=100014011052592