Ada pernyataan bahwa takkan ada persatuan jika tidak di atas manhaj yang benar, yaitu “Manhaj Salaf”.

Memang persatuan terbaik itu harus dibangun di atas manhaj yang benar, namun klaim bahwa kelompoknya saja yang mengikuti manhaj salaf ini perlu di kaji, karena secara teori mungkin betul tapi secara pemahaman, praktek dan fakta dilapangan ternyata berbeda maka tetap saja terjadi perselisihan bahkan saling mentahdzir dan tidak bisa bersatu bagi kelompok yang mengklaim bahwa mereka berada diatas manhaj Salaf.

Jikalau kita telaah perjalanan sejarah manusia, maka sebab persatuan itu terjadi karena:

✓ ‘aqidah / ideologi yang sama,
✓ pemimpin yang kuat lagi berwibawa,
✓ tujuan bersama (common goal) yang harus dicapai atau musuh bersama (common enemy) yang harus dihadapi.

Ketiga faktor itulah yang memang menjadi ingredients (bahan baku) untuk mencapai suatu persatuan, di mana 1 faktor aja tidak cukup, sebab setidaknya harus ada 2 di antaranya. Adapun faktor “pemimpin yang kuat lagi berwibawa” malah tampaknya menjadi faktor yang terpenting dan paling berpengaruh di antara ketiga hal tersebut.

Buktinya kita ambil langsung dari sejarah para shohâbat رضي الله عنهم, kelompok manusia yang terbaik yang pernah ada dari ummat manusia sepanjang zaman. Para Shohâbat itu bersatu karena keîmânan, karena kepemimpinan yang kuat dan berwibawa dari Baginda Rosûlullôh صلى الله عليه و سلم. Begitu juga semasa Kholîfah Abû Bakar ash-Shiddîq رضي الله عنه, kemudian Khôlifah ‘Umar ibn al-Khoththôb رضي الله عنه, dan kemudian pada masa Kholîfah ‘Ustmân ibn ‘Affân رضي الله عنه. Ketiga Khulafa’ur-Rosyidin itu adalah figur-figur yang kuat lagi berwibawa.

Namun ternyata dari sejarah pula kita tahu bahwa selepas terbunuhnya Kholîfah ‘Utsmân ibn ‘Affân رضي الله عنه, maka Ummat Islâm pun terpecah. Perpecahan terjadi karena sebagian yang langsung berbai‘at kepada Kholîfah ‘Alî ibn Abu Thôlib رضي الله عنه, sedangkan sebagian yang lain tak mau berbai‘at karena menganggap urusan qishosh terhadap para pembunuh ‘Utsmân harus diselesaikan terlebih dahulu. Singkat cerita, akibat dari perselisihan itu, maka terjadilah 2 perang saudara besar, yaitu: Perang Jamal dan Perang Shiffin.

Perang Jamal itu terjadi karena kesalahpahaman, di mana akibatnya terbunuh 2 orang Shohâbat besar, yaitu: Tholhah ibn ‘Ubaidillâh رضي الله عنه dan az-Zubair ibn al-‘Awwâm رضي الله عنه. Dua orang yang namanya disebutkan langsung mendapatkan jaminan Syurga oleh Baginda Rosûlullôh صلى الله عليه و سلم. Tak hanya itu, pada Perang Jamal itu ikut serta pula Ibunda ‘Â-isyah رضي لله عنها, yang merupakan istri dari Baginda Nabî di Dunia dan di Syurga. Baik Shohâbat Tholhah, az-Zubair, dan Ibunda ‘Â-isyah adalah berada pada pihak yang melawan Kholîfah ‘Alî, padahal ‘Alî adalah menantu dari Baginda Nabî, salah seorang dari 4 Khulafa’ur-Rosyidin, dan juga salah satu dari orang yang namanya disebut langsung mendapatkan jaminan Syurga oleh Baginda Nabî.

Begitu juga dengan Perang Shiffin, di mana Kholîfah ‘Âlî berperang melawan Shohâbat Mu‘âwiyah ibn Abû Sufyân رضي الله عنهما. Perkaranya masih sama, yaitu qishosh terhadap para pembunuh ‘Utsmân رضي الله عنه. Shohâbat Mu‘âwiyah رضي الله عنه bukan pula orang sembarangan, karena beliau adalah salah seorang pencatat wahyu, dan merupakan orang pertama yang mengirim pasukan perang muslim di laut, sedangkan Ummat Islâm yang pertama berperang di laut telah pula mendapatkan jaminan Syurga dari Baginda Nabî صلى الله عليه و سلم.

Pertanyaannya adalah jikalau memakai standar klaim bahwa persatuan itu hanyalah ada di atas manhaj yang diakui sebagai “Manhaj Salaf”, maka mengapa para Shohâbat yang adalah murid-murid langsung dari Baginda Nabî itu berperang?

Apakah mereka itu berani mendakwa bahwa para Shohâbat itu bukan bermanhaj Salaf, sementara telah sangat jelas para Shohâbat itu mendapat sertifikasi bermanhaj Salaf langsung dari Langit [lihat: QS at-Taubah (9) ayat 110]…?!?

Lalu kenapa sampai berselisih dan berperang…?

Kenapa berselisih bahkan sampai berperang? Kenapa tak bersatu, padahal manhaj mereka pasti benar? Bukankah kepemimpinan yang kuat ada? Bukankah common goal (da‘wah ilallôh, iqomatuddîn wal siyasatuddunya biddîn) serta common enemy (Romawi Byzantium dan Persia) juga sama?

Lalu kenapa para Shohâbat itu berselisih…?

Apakah kita berani menuduh para Shohâbat yang mulia itu dengan tuduhan yang tidak-tidak…?!?

Kufur kalau sampai kita berani…!!!

Lalu apa…?

Satu hal yang mungkin terabaikan adalah bahwa ketiga faktor yang disebutkan di atas tersebut hanyalah faktor-faktor duniawi, *sementara terjadinya persatuan itu adalah soal hati yang diberi nikmat untuk bersatu oleh الله Subhânahu wa Ta‘âlâ*.

Nah sebagaimana dengan urusan pembagian rezeki, pembagian nikmat الله Subhânahu wa Ta‘âlâ itu adalah rahasia الله. Manusia hanya dapat berusaha sebatas kemampuan yang dimilikinya, sedangkan soal berapa rezeki yang bakal ia dapatkan, maka itu adalah rahasia-Nya.

Jadi, walaupun berideologi sama, memiliki pemimpin yang kuat dan berwibawa, memiliki common goal atau common enemy, maka jika hati-hati manusia itu tidak diberikan nikmat untuk bersatu oleh الله Subhânahu wa Ta‘âlâ, maka persatuan itu pasti takkan terjadi sama sekali.

⚠ Persatuan itu hanyalah karena nikmat dari الله Subhânahu wa Ta‘âlâ semata, di mana syarat diberikan nikmat itu adalah dengan berpegang teguh kepada agama الله.

📌 Kata الله Subhânahu wa Ta‘âlâ:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

(arti) _“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allôh dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allôh kepada kamu saat kamu dulu (semasa Jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allôh mempersatukan hati-hati kamu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allôh orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang Neraka, lalu Allôh menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allôh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu agar kamu mendapat petunjuk.”_ [QS Âli ‘Imrôn (3) ayat 103].

⇛ Maka jelas bahwa persatuan itu memang harus diperjuangkan melalui beragama yang benar, sedangkan hal persatuan itu hanya akan terjadi dari sebab nikmat dari الله Subhânahu wa Ta‘âlâ semata.

❗ Bahkan pada ayat suci di atas, الله Subhânahu wa Ta‘âlâ menyebutkan dua kali bahwa persatuan dan persaudaraan itu hanya terjadi karena nikmat الله Subhânahu wa Ta‘âlâ semata.

Nikmat الله Subhânahu wa Ta‘âlâ itu hanya dapat dicapai dengan ketaqwaan (kepatuhan), makanya Baginda Nabî صلى الله عليه و سلم pun memerintahkan ummatnya untuk memulainya dari merapatkan shoff di dalam sholât.

📌 Kata Nabî صلى الله عليه و سلم:

اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ

(arti) _“Luruskanlah dan janganlah kalian melenceng, karena hati kalian pun akan melenceng (bercerai-berai).”_ [HR Muslim no 432; an-Nasâ-î no 812; Ahmad no 17708].

⇛ Ini jelas agar kita biasa saling mendekatkan diri dengan sesama muslim, tidak saling berjauhan, sebab kalau dari shoff sholât saja tidak mau merapatkan dan meluruskannya, maka bagaimana lagi dengan urusan lainnya?

Persatuan yang kita harapkan itu harus didasari kerja-sama di dalam kebaikan dan ketaqwaan (تَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ) [lihat: QS al-Mâ-idah (5) ayat 2], dengan kerangka:

✓ Wasiat-mewasiati dalam kebenaran (تَوَاصَوْا بِالْحَقِّ), yaitu al-Qur-ân dan as-Sunnah [lihat: QS al-‘Ashr (103) ayat 3].
✓ Wasiat-mewasiati dalam kesabaran (تَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ) [lihat: QS al-‘Ashr (103) ayat 3], bukan jadi nrimo à la Jabariyyah.
✓ Wasiat-mewasiati dalam kasih-sayang (تَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ) [lihat: QS al-Balad (90) ayat 17].

☠ Persatuan takkan terjadi antara hati-hati yang merasa exclusive, merasa lebih baik, tak mau berbaur dan merasa paling benar sendiri. Apalagi kerap menyakiti saudara-saudari sesama muslim dengan perkataan keji semacam: “cakar-cakaran seperti persatuan kebun binatang” atau “tumpahkan darahnya pengunjuk rasa”.

Di situlah pentingnya do’a yang mengiringi usaha. Setelah kita berusaha memperbaiki diri kita, menjalankan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.

❤ Maka kita berdo’a:

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

(arti) “Wahai Allôh, persatukanlah hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara sesama kami, tunjukkanlah kami kepada jalan-jalan keselamatan, selamatkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya, jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan keji yang tampak maupun yang tersembunyi.”

نَسْأَلُ اللهَ الْسَلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ