Untuk melihat jelas bagaimana tahapan kerja imam Nawawi dalam internal mazhab, mari simak ulasan berikut ini.

Ada satu permasalah Fikih yang diperbincangan hukumnya oleh para senior Syafi`iyyah, jauh sebelum era imam Nawawi. Permasalah itu adalah tentang hukum sujud dengan menempelkan kedua tangan, lutut dan tapak kaki di tempat sujud.

TAHAPAN PERTAMA
Di tahapan awal ini, imam Nawawi tentunya mendapatkan data awal dari referensi Syafi`iyyah yang familiar dipelajari di masanya, seperti al-Muhadzzab dan at-Tanbih karya imam as-Syiradz, as-Syarh al-Kabir (al-`Aziz) dan as-Syarh al-Saghir karya imam ar-Rafi`i, dan semacamnya.

Sebelum era imam Nawawi, lebih tepatnya era imam ar-Rafi`i, terdapat dua pendapat dalam masalah ini, yang diklaim sama-sama berasal dari imam Syafi`i.

Pendapat pertama mengatakan tiga bagian tubuh itu tidak wajib ditempelkan, sedangkan yang kedua menyatakan sebaliknya; wajib.

Kedua pendapat ini diklaim ada dalam kitab al-Umm, sementara yang ada dalam kitab al-Imla’ menyatakan itu hanya perkara ‘Mustahab’ (sunat) bukan wajib.

Karenanya, para ulama senior Syafi`iyyah pun akhirnya berbeda pendapat dalam menentukan, mana dari kedua pendapat imam Syafi`i itu yang kuat.

TAHAPAN KEDUA
Dari data awal di atas, imam Nawawi kemudian menelusuri siapa saja ulama Syafi`iyyah, yang punya ‘saham’ pendapat dalam menentukan yang terkuat dari kedua pendapat tersebut.

Hasilnya, diketahui bahwa pendapat pertama (tidak wajib) itu didukung dan dibenarkan oleh beberapa ulama besar Syafi`iyyah, seperti: al-Qadhi Abu at-Thayyib, as-Syairazy dalam al-Muhadzzab, al-Jurjany dalam at-Tahrir, ar-Ruyany dalam al-Hilyah, dan ar-Rafi`i.

Sementara itu, pendapat kedua (wajib) dibenarkan oleh ulama Syafi`iyyah lainnya, seperti: al-Bandanijy, penulis kitab al-`Uddah, Abu Nashr al-Maqdisy, dan Abu Hamid dalam at-Tabshirah.

Hasil penelusuran ini beliau sampaikan dalam kitabnya al-Majmu`, berbunyi:

فَفِي وُجُوبِ وَضْعِ الْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ قَوْلَانِ مَشْهُورَانِ نَصَّ عَلَيْهِمَا فِي الْأُم.ِّ قَالَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِد:ٍ وَنَصَّ فِي الْإِمْلَاءِ أَنَّ وَضْعَهَا مُسْتَحَبٌّ لَا وَاجِبٌ.

وَاخْتَلَفَ الْأَصْحَابُ فِي الْأَصَحِّ مِنْ الْقَوْلَيْنِ؛ فَقَالَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ ظَاهِرُ حَدِيثِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَا يَجِبُ وَضْعُهَا، وَهُوَ قَوْلُ عَامَّةِ الْفُقَهَاء. وَقَالَ المصنف والبغوى: هذا القول هو الْأَشْهَر،ُ وَصَحَّحَهُ الْجُرْجَانِيُّ فِي التَّحْرِير ِوَالرُّويَانِيُّ فِي الحلية والرافعى.

وصحح جماعة قول الوجوب؛ منهم الْبَنْدَنِيجِيُّ وَصَاحِبُ الْعُدَّةِ وَالشَّيْخُ نَصْرٌ الْمَقْدِسِيُّ، وَبِهِ قطع الشيخ أبو حامد في التبصرة.

Deretan nama ulama di atas menunjukkan bagaimana kerja keras imam Nawawi, dalam menelusuri dan menjelajahi seperti apa ‘sebaran’ pendapat di kalangan Syafi`iyyah dalam masalah ini. Tanpa punya rujukan yang memadai, penelusuran seperti ini rasanya sangat berat dilakukan, bahkan mungkin mustahil bisa diwujudkan.

TAHAPAN KETIGA
Di tahapan ini, imam Nawawi melakukan penyeleksian antara kedua pendapat di atas, dengan cara menganalisa kekuatan dalil dari kedua pendapat.

Dan ternyata hasil seleksi atau Tarjih beliau ini berbeda dengan hasil seleksi imam ar-Rafi`i, yang notabene juga seorang pakar Tarjih mumpuni sebelum beliau.

Walhasil, beliau menilai pendapat kedua (wajib) adalah yang terkuat dengan berpijak pada argumentasi ilmiah, berikut dengan membuat semacam ‘diskusi’ dalam mengadu kekuatan dalil dari kedua pendapat. Dalam al-Majmu` beliau mengatakan:

وهذا هُوَ الْأَصَح،ُّ وَهُوَ الرَّاجِحُ فِي الدَّلِيلِ، فَإِنَّ الْحَدِيثَ صَرِيحٌ فِي الْأَمْرِ بِوَضْعِهَا، وَالْأَمْرُ لِلْوُجُوبِ عَلَى الْمُخْتَارِ وَهُوَ مَذْهَبُ الْفُقَهَاء،ِ وَالْقَائِلُ الْأَوَّلُ يحمل الحديث علي الاستحباب، وَلَكِنْ لَا نُسَلِّمُ لَهُ لِأَنَّ أَصْلَهُ الْوُجُوبُ فَلَا يُصْرَفُ عَنْهُ بِغَيْرِ دَلِيلٍ

Kesimpulan yang telah dapatkan itu selanjutnya beliau sampaikan dalam redaksi khusus, seperti yang terlihat dalam kitabnya al-Minhaj, yaitu:

قلتُ : الأظهرُ وجوبُه، والله أعلم

dan dalam kitab ar-Raudhah berbunyi:

قلتُ : الأظهر وجوب الوضع

atau dalam kitab al-Majmu` berbunyi:

فالمختار الصحيح الوجوب

Wallahua`lam