Oleh:

Abdullah Bin Abdul Wahab

Ada dua kitab akidah yang isinya sangat bertolak belakang. Keduanya dinisbatkan kepada pengarangnya secara tidak valid dan tak bisa dipertanggung jawabkan sebab sanad atau kontennya bermasalah.

1. Kitab as-Sunnah yang dinisbatkan ke Abdullah bin Ahmad, putra Imam Ahmad. Isinya adalah riwayat-riwayat ekstrem yang dengan gamblang membela tajsim lalu dinisbatkan pada Imam Ahmad dan imam lainnya. Pernyataan Imam Ahmad yang pro tajsim di sini tak ditemukan di kitab-kitab lainnya. Periwayat tak jelas identitasnya atas kitab ini adalah أبو النصر محمد بن الحسن بن سليمان السمسار dan أبو عبد الله محمد بن إبراهيم بن خالد الهروي

2. Kitab Fiqhul Akbar yang dinisbatkan ke Imam Syafi’i. Isinya pernyataan-pernyataan Imam Syafi’i yang membabat habis paham tajsim dengan gaya mutakallimin yang hanya dikenal sesudah beliau wafat. Pernyataan Imam Syafi’i di kitab ini juga tak ditemukan di kitab-kitab lainnya. Sanadnya juga bermasalah.

Dua imam besar yang muridnya seabrek, tapi pernyataannya hanya ada di satu kitab yang sanadnya bermasalah? Tentu yang punya nalar ilmiah akan curiga. Saya tak mau merujuk kitab kedua meskipun saya setuju kontennya. Dan saya malas kalau ketemu teman-teman salafi yang merujuk kitab pertama lalu memperlakukannya layaknya hadis sahih. Andaipun sanadnya sahih, maka tak ada yang maksum selain Rasul.

Membahas akidah tentu harus hati-hati. Demikian juga menisbatkan akidah tertentu ke seorang imam juga harus hati-hati dan tahqiq. Tak boleh hanya taqlid buta atau menutup mata dari ketidak-sahihan. Dalil yang sahih seabrek, kok malah mengais yang tak sahih?

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10204675002111156&id=1718970307