Tidak ada yang salah dengan meneliti ulang pendapat para Fuqaha atau Muhadditsin untuk mendapatkan hasil yang rajih (unggul). Bahkan, hal tersebut merupakan kewajiban bagi yang telah mampu berijtihad.

Ijtihad dan tarjih bukanlah hal yang baru dalam dunia Islam. Karenanya kita akan melihat adanya perbedaan antara pendapat para Ulama dengan Imam madzhabnya sendiri. Atau perbedaan antara seorang muhaddits dengan guru-gurunya.

Persoalannya adalah: Pertama, bahwa proses tarjih hanya boleh dilakukan oleh mereka yang telah memenuhi syarat-syarat keilmuannya, tidak sembarang orang berhak melakukannya. Kedua, bahwa hasil penelitian atau tarjih seseorang bukanlah kebenaran mutlak. Sehingga tidak layak baginya untuk mengklaim bahwa apa yang rajih (unggul) di sisinya mesti dianggap rajih oleh orang selainnya. Dan apa yang marjuh (lemah) di sisinya juga mesti dianggap lemah oleh orang selainnya.

Bagi dirinya -si peneliti tersebut- wajib untuk mengamalkan apa yang rajih menurutnya, sebagai bagian dari mengamalkan kebenaran. Namun sama sekali tidak ada beban untuk memaksakan orang lain memilih pendapat yang sama dan mengamalkan hasil penelitiannya.

Lalu, bagaimana bila kita tidak mampu atau belum bisa melakukan tarjih? Bagaimana memilih dan memilah berbagai pendapat Ulama untuk kita amalkan?

Maka, hendaklah baginya untuk memilih pendapat jumhur (mayoritas) Ulama Salaf, karena pendapat jumhur biasanya lebih dekat kepada kebenaran. Bila tidak mampu melihat pendapat jumhur, maka pilihlah satu Imam Mujtahid dari kalangan Salaful Ummah untuk ia ikuti. Dilihat dari sisi kefaqihan dan sifat wara’-nya.

Bila masih belum mampu juga untuk menentukan salah satu Imam, maka pilihlah pendapat yang paling berat atau paling bertentangan dengan hawa nafsu. Namun, bila terlalu berat sampai tidak bisa diamalkan, maka pilihlah pendapat yang lebih ringan.

Pemilihan pendapat bagi orang-orang awam atau para penuntut ilmu mesti dilakukan secara berurutan dari atas sampai terakhir. Tidak boleh ia langsung memilih pendapat terakhir misalnya, karena berpotensi menyebabkan kerusakan demi kerusakan.

Tidak perlu juga seseorang untuk memaksakan diri melakukan tarjih, karena ijtihadnya orang awam adalah meneliti dan memilih Imam yang paling layak diikuti. Sayangnya, kebanyakan orang ingin menjadi faqih dan alim secara instan, sehingga ia memaksakan untuk mengenakan jubah para Ulama untuk menutupi kejahilannya.

Semoga Allaah azza wa jalla memberikan kita kesabaran dan keistiqamahan dalam menuntut ilmu dan beramal shalih.

Wallaahu a’lam.

-Laili Al-Fadhli-

*Urutan dalam memilih pendapat para Ulama ini disebutkan oleh Dr. Hatim Al-Auni dalam Ikhtilaaful Muftiin.

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1548971551898013&id=100003555485295