Cara berdakwah Ibnu Taimiyah -Rahimahullah- jangan disamakan dengan cara dakwah kalian. Walaupun keras dalam mengkritik berbagai penyimpangan, tapi beliau tidak kaku seperti kalian dalam berinteraksi dan bersikap dengan para ulama Asyairah-Mutakallim atau Shufi-Sunni di zamannya.

Lihatlah, antara kritikan dan pujian, masih bisa keluar dari lisan dan tulisan beliau secara objektif, terhadap lawan manhaj-nya yang semasa. Antara kebaikan dan keburukan pihak yang dikritisi penyimpangannya, masih bisa beliau akui dan pertimbangkan.

Perhatikan bagaimana Ibnu Taimiyah -Rahimahullah- bersikap kepada `Alauddin al-Bajy; ahli ilmu Kalam berpaham Asyairah di masanya. Saat bertemu dengan beliau, Ibnu Taimiyah menghormatinya dan tidak berbicara sepatah katapun di hadapannya, sampai-sampai `Alauddin sendiri yang mengajaknya untuk berbicara dan berdiskusi. Namun, beliau menanggapinya dengan menyatakan:

مثلي لا يتكلم بين يديك، أنا وظيفتي الاستفادة منك

“Orang yang seperti saya tidak pantas berbicara di hadapanmu. Posisi saya hanya mengambil faedah dari anda”.

Subhanallah, kalian pasti sudah tahu bagaimana tajam dan pedasnya kritikan beliau atas paham Asyairah, tapi beliau masih bisa berkata seperti itu kepada tokoh ahli ilmu Kalam berpaham Asyairah. Ini bukan lagi sekedar ‘kumpul bareng’, tapi sudah sampai kepada memposisikan diri sebagai ‘Mustafid’ kepada orang yang berbeda ‘Manhaj’.

Nah, apakah kalian sanggup bersikap dan mengucapkan hal yang sama kepada UAS, UAH dan yang semisalnya? Sementara itu, menurut saya, ilmu Tauhid dan Sunnah kalian, belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan yang dimiliki Ibnu Taimiyah.

Padahal, ke-Asyari-an UAS atau UAH dan lainnya belum ada apa-apanya dengan `Alaudin al-Baji ini. Perhatikan sosok `Alauddin dalam penilaian Tajuddin as-Subki berikut ini:

وَكَانَ الْبَاجِيّ أعلم أهل الأَرْض بِمذهب الْأَشْعَرِيّ فِي علم الْكَلَام، وَكَانَ هُوَ بِالْقَاهِرَةِ والهندي بِالشَّام القائمين بنصرة مَذْهَب الْأَشْعَرِي،ّ والباجي أذكى قريحة وأقدر على المناظرة.

“Al-Bajy adalah orang yang paling tahu dengan mazhab Asy`ari dalam ilmu Kalam di muka bumi ini. Beliau yang berdomisili di Kairo dan al-Hindy di Syam, adalah dua orang pembela mazhab Asy`ari. Tapi, al-Bajy lebih cerdas dan ulung dalam berdebat, dibandingkan dengan al-Hindy”.

Oo mungkin kalian mengatakan ucapan beliau itu hanyalah bentuk ketawadukannya. Baik, sekarang silahkan dijawab, menurut manhaj kalian, apakah boleh tawaduk kepada ‘ahli Bid`ah’ seperti Asyairah dan Mutakallim?

Seperti itulah sedikit gambaran dari etika dakwah beliau. Dan jangan-jangan, etika dakwah seperti itulah yang membuat dakwah beliau ‘berkah’ seperti yang kalian katakan.

Lantas, bagimana dengan cara dakwah kalian sendiri? Kritikan kalian terhadap penyimpangan telah membutakan mata dan hati kalian, menghilangkan ke-Inshaf-an dalam diri, serta menanamkan bibit kefanatikan dan taklid buta dalam jiwa pengikut yang awam. Akibatnya, sedikit saja ‘penyimpangan’ yang terlihat di mata kalian, itu akan membuat pelakunya terbuang jauh dari keluarga besar Ahlussunnah, sekalipun itu sama-sama keluar dari rahim kampus atau guru yang sama.

حسبنا الله، نعم المولى ونعم الوكيل.

Wallahua`lam