1. Setelah madzhab Asy-Syafi’i selesai ditahqiq oleh Imam An-Nawawi dan Ar-Rafi’i (abad ke-7 H), dan yang tidak dibahas oleh keduanya telah dibahas secara kokoh oleh dua orang faqih, Ibnu Hajar Al-Haitami dan Ar-Ramli (abad ke-10 H), maka ulama-ulama setelahnya telah ridha untuk mengambil fatwa dari kitab-kitab mereka.

2. Jika dua orang Syaikh (yaitu: An-Nawawi dan Ar-Rafi’i) telah bersepakat atas suatu pendapat, maka itulah pendapat mu’tamad.

Jika keduanya berselisih, maka yang diutamakan adalah pendapat An-Nawawi.

3. Yang diutamakan dari kitab An-Nawawi secara berurutan adalah: At-Tahqiq, lalu Al-Majmu’, lalu At-Tanqih, lalu Ar-Raudhah, lalu Al-Minhaj, lalu Fatawi-nya, lalu Syarh Muslim, lalu Tashhih At-Tanbih dan Nukat-nya.

4. Setiap fuqaha Syafi’iyyah boleh berfatwa berdasarkan pendapat mereka berdua (yaitu: An-Nawawi dan Ar-Rafi’i).

5. Yang disepakati oleh Ibnu Hajar dan Ar-Ramli pada persoalan-persoalan yang belum pernah dibahas sebelum mereka, maka itu adalah mu’tamad.

6. Jika mereka berdua berselisih, penduduk Hijaz dan Hadramaut mengutamakan pendapat Ibnu Hajar, sedangkan penduduk Syam dan Mesir mengutamakan pendapat Ar-Ramli.

7. Boleh beramal dan berfatwa dengan pendapat dari kitab-kitab Syafi’iyyah lainnya yang banyak dinukil pendapatnya, kecuali yang disepakati bahwa pendapat itu salah, lemah, atau karena kelalaian.

Wallahu a’lam.

Sumber: At-Taqrirat As-Sadidah fi Masail Al-Mufidah, Qism Al-‘Ibadah, karya Hasan bin Ahmad Al-Kaf, terbitan Dar Al-‘Ulum Al-Islamiyyah, Surabaya, Indonesia, hlm. 34-40.