Oleh : Abdullah Al Jirani

Sebagian saudara-saudara kita ketika selesai shalat (setelah salam), mereka mengucapkan takbir. Ada yang tiga kali, ada yang lima kali dan ada yang lebih dari itu. Bahkan kami-pun dulu sempat mengamalkan pendapat ini. Bagaimana sebenarnya hukum masalah ini ? Simak penjelasan berikut !

Telah diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Majah –rohimahullah-. Beliau berkata :

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ حَبِيبٍ، حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ (ح)[وَحَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ] (1) حَدَّثَنِي شَدَّادٌ أَبُو عَمَّارٍ، حَدَّثَنِي أَبُو أَسْمَاءَ الرَّحَبِيُّ حدثني ثَوْبَانُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ يَقُولُ: “اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”

“Hisyam bin ‘Ammar telah menceritakan kepada kami, beliau berkata Abdul Hamid bin Habib telah menceritakan kepada kami, beliau berkata Al-‘Auza’i pernah menceritakan kepada kami ( perpindahan sanad ) Abdurrohman bin Ibrohim Ad-Dismasyqi pernah menceritakan kepada kami, beliau berkata : Al-Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami, beliau berkata : Al-‘Auza’i telah menceritakan kepada kami, beliau berkata : Syaddad Abu ‘Ammar telah menceritakan kepadaku, beliau berkata : Abu Asma’ Rohayyu, beliau berkata : Tsauban telah menceritakan kepadaku : “Sesungguhnya Rosulullah-shollallahu ‘alaihi wa sallam- apabila selesai dari sholatnya, beliau istighfar sebanyak tiga kali. Kemudian beliau berkata : “Allohumma antas salam wa minkas salam tabarokta ya Dzal Jalali Wal Ikrom”. ( HR. Abu Dawud : 1513 dan Ibnu Majah : 928, dan lafadz tersebut di atas lafadz Ibnu Majah. Hadits ini telah dishohihkan oleh al-imam Al-Albani –rohimahullah- ).

Hadits di atas menunjukkan, bahwa yang pertama kali dibaca oleh Rosulullah –shollallahu ‘alaihi wa sallam- setelah mengucapkan salam ketika sholat adalah istighfar. Karena ma’na ucapan Tsauban : “Apabila selesai dari sholatnya” adalah apabila sudah selesai dari mengucapkan salam.

Hal ini berdasarkan keterangan dari Al-Imam Al-Mubarokfuri –rohimahullah- ketika menukil keterangan dari Al-Imam An-Nawawi –rohimahullah- :

قَالَ النَّوَوِيُّ الْمُرَادُ بِالِانْصِرَافِ السَّلَامُ

“An-Nawawi berkata : yang dimaksud dengan ( kata ) “selesai dari sholatnya” adalah mengucapkan salam”. ( Tuhfatul Ahwadzi : 2/168 ).

Al-Imam An-Nawawi –rohimahullah- berkata :

قَالَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَبْدَأَ مِنْ هَذِهِ الْأَذْكَارِ بِحَدِيثِ الِاسْتِغْفَارِ وَحَكَى حديث ثوبان

“Al-Qodhi Abu Thoyyib berkata : dicintai untuk seorang mengawali dari dzikir-dzikir ( sholat ) ini dengan hadits istighfar dan beliau kemudian menghikayatkan hadits Tsauban”. ( Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab : 3/487 ).

Al-Imam Ibnul Qoyyim –rohimahullah- berkata :

و إذا سلم استغفر ثلاثا و قال اللهم أنت السلام و منك السلام تباركت يا ذا الجلال و الإكرام

“Adalah Rosulullah – shollallahu ‘alaihi wa sallam – apabila selesai dari mengucapkan salam, beliau beristighfar sebanyak tiga kali dan ( kemudian ) mengucapkan allohumma antas salam wa minkas salam tabarokta ya dzal jalali wal ikrom” ( Zadul Ma’ad : 1/136 ).

Adapun sifat atau bentuk kalimat istighfarnya, adalah astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah. Sebagaimana telah dijelaskan sendiri oleh salah seorang rowi ( periwayat ) hadits Tsauban di atas dalam shohih Muslim, beliau ( imam Muslim ) berkata :

حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ أَبِي عَمَّارٍ، اسْمُهُ شَدَّادُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ، عَنْ ثَوْبَانَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ: «اللهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ» قَالَ الْوَلِيدُ: فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ: ” كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ؟ قَالَ: تَقُولُ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ

“Dawud bin Rusyaid telah menceritakan kepada kami, ( beliau berkata ) : Al-Walid telah menceritakan kepada kami, ( beliau berkata ) dari Al-Auza’i dari Abu Ammar, namanya Syaddad bin Abdillah dari Abu Asma’ dari Tsauban beliau berkata : “Adalah Rosulullah – shollallahu ‘alaihi wa sallam – apabila selesai dari sholatnya beliau beristighfar sebanyak tiga kali. ( kemudian ) beliau berkata : allohumma antas salam wa minkas salam tabarokta dzal jalali wal ikrom”. Al-Walid berkata : “Aku bertanya kepada Al-Auza’i : “Bagaimana istighfar ? Beliau menjawab : Astaghfirullah, astaghfirullah”. ( HR. Muslim : 135 ).

Ada sebagian kaum muslimin yang berpendapat bahwa setelah salam, pertama kali yang diucapkan adalah takbir. Mereka berdalil dengan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas – rodhiallohu ‘anhu – beliau berkata :

كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّكْبِيرِ

“Aku mengetahui selesainya sholat Rosulullah – shollallahu ‘alaihi wa sallam – dengan takbir” ( HR. Al-Bukhori : 842 dan Muslim : 583 ).

Dalam jalur periwayatan yang lain dalam Shohih Muslim dengan lafadz pembatasan :

مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا بِالتَّكْبِيرِ

“Tidaklah kami mengetahui selesainya sholat Rosulullah – shollallahu ‘alaihi wa sallam – kecuali dengan takbir”. ( HR. Muslim : 583 ).

Pendapat ini merupakan pendapat yang kurang tepat dari beberapa sisi :

Pertama :
Pendapat ini bertentangan dengan hadits Tsauban yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam shohih-nya yang menunjukkan dengan jelas tanpa ada kemungkinan ma’na yang lain, bahwa pertama kali yang diucapkan oleh Rosulullah-shollallahu ‘alaihi wa sallam- adalah istighfar bukan takbir.

Adapun hadits Ibnu Abbas di atas masih mengandung beberapa kemungkinan ma’na sebagaimana yang akan kami terangkan pada point berikutnya. Oleh karena itu, hadits yang mengandung satu kemungkinan saja didahulukan dari hadits yang mengandung beberapa kemungkinan sebagaimana yang telah dibahas dalam ilmu ushul fiqh.

Kedua :
Ibnu Abbas menyatakan : bahwa beliau tidak mengetahui selesainya sholat Rosulullah – shollallahu ‘alaihi wa sallam – kecuali dengan ucapan takbir. Hal ini merupakan perkara yang musykil. Karena sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa tanda akhir sholat itu diakhiri dengan ucapan salam bukan takbir.
Sebagaimana telah diriwayatkan dalam sebuah hadits :

تحريمها التكبير و تحليلها التسليم

“( Sholat itu ) pembukaannya adalah takbir ( ihrom ) dan penutupannya adalah salam”.

Juga diriwayatkan oleh Aisyah –rodhiallohu ‘anha – beliau berkata :

وكان يختم الصلاة بالتسليم

“Dan adalah beliau – shollallahu ‘alaihi wa sallam – menutup sholatnya dengan ucapan takbir”. ( HR. Muslim ).

Oleh karena itu, para ulama’ menyebutkan beberapa kemungkinan kenapa Ibnu Abbas mengucapkan hal ini. Diantaranya mereka, Al-Imam Ibnu Hajar –rohimahullah- beliau berkata :

وَاخْتُلِفَ فِي كَوْنِ بن عَبَّاسٍ قَالَ ذَلِكَ فَقَالَ عِيَاضٌ الظَّاهِرُ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَحْضُرُ الْجَمَاعَةَ لِأَنَّهُ كَانَ صَغِيرًا مِمَّنْ لَا يُوَاظِبُ عَلَى ذَلِكَ وَلَا يُلْزَمُ بِهِ فَكَانَ يَعْرِفُ انْقِضَاءَ الصَّلَاةِ بِمَا ذَكَرَ وَقَالَ غَيْرُهُ يَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ حَاضِرًا فِي أَوَاخِرِ الصُّفُوفِ فَكَانَ لَا يَعْرِفُ انْقِضَاءَهَا بِالتَّسْلِيمِ وَإِنَّمَا كَانَ يعرفهُ بِالتَّكْبِيرِ

“Diperselisihkan dalam masalah ( kenapa ) Ibnu Abbas mengucapkan hal itu. ( Al-Imam ) Iyadh berkata : Yang tampak, sesungguhnya dia waktu itu belum hadir sholat berjama’ah karena masih kecil yang termasuk dari orang-orang yang tidak teratur/tidak terus menerus di atas hal itu dan juga belum wajib dengannya. Maka dia mengetahui selesainya sholat sesuai apa yang dia ingat. Yang lain mengatakan : ada kemungkinan dia hadir di shoff-shoff akhir, maka dia tidak mengetahui ( kalau ) selesainya sholat itu ( ditandai ) dengan ucapan salam. Dia tahunya hanya dengan takbir”. ( Fathul Bari : 2/236 ).

Hal ini juga diperkuat oleh ucapan Al-Imam Ibnu Daqiqil Ied –rohimahullah-, bahwa waktu itu belum ada muballigh ( orang yang bertugas menyampaikan ucapan kepada orang yang posisinya jauh dari imam ). Beliau –rohimahullah- berkata :

يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ مُبَلِّغٌ جَهِيرُ الصَّوْتِ يُسْمِعُ مَنْ بَعُدَ

“Darinya dapat diambil ( faidah ) sesungguhnya ( waktu itu ) di sana belum ada muballigh yang suaranya keras yang dapat memperdengarkan kepada orang yang jauh ( posisinya )”. ( Fathul Bari : 2/236 ).

Karena belum ada muballigh, maka Ibnu Abbas tidak mendengar ucapan pertama yang diucapkan Rosulullah –shollallahu ‘alaihi wa sallam- berupa takbir. Karena kemungkinan beliau berada di posisi shoff belakang.

■Kesimpulan :
Setelah mengucapkan salam sebagai tanda akhir sholat, disyari’atkan yang pertama kali untuk mengucapkan istighfar sebanyak tiga kali kemudian disambung dengan ucapan : Allohumma antas salam wa minkas salam tabarokta ya dzal jalali wal ikrom sebagaimana telah dijelaskan di atas. Bukan bacaan takbir sebagaimana dipahami oleh sebagian orang. Dan pendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama’ ( mayoritas ulama’ ). Al-hamdulillah robbil ‘alamin…..

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=266573597447280&id=100022839249697

Bolehnya membaca Istigfar yang lain . Dasarnya sebuah hadits dalam sunan Abu Dawud :

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ بْنِ مُرَّةَ الشَّنِّيُّ حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ بْنُ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ بِلَالَ بْنَ يَسَارِ بْنِ زَيْدٍ مَوْلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُنِيهِ عَنْ جَدِّي
أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ

Telah menceritakan kepada Kami Musa bin Isma’il, telah menceritakan kepada Kami Hafsh bin Umar bin Murrah Asy Syanni, telah menceritakan kepadaku ayahku yaitu Umar bin Murrah, ia berkata; saya mendengar Bilal bin Yasar bin Zaid mantan budak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata; aku mendengar ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku bahwa ia mendengar Rasulullah shallla Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mengucapkan; ASTAGHFIRULLAAHAL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIH (aku memohon ampun kepada Allah Dzat yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, yang Maha Hidup dan Yang terus mengurus makhlukNya, dan aku bertaubat kepadaNya), maka dia pasti akan diampuni walaupun dia pernah lari dari medan pertempuran.” [ HR. Abu Dawud : 1296 dan dishahihkan oleh syaikh al albani ].