Oleh : Abdullah Al Jirani

Masih sering kita jumpai, saat ada sebuah pendapat yang berbeda dengan pendapat atau amalan seorang, dia akan segera menyikapi dengan berbagai ucapan atau sikap yang sekilas bagus, namun sebenarnya keliru serta memiliki kesan ‘menyudutkan’ secara sepihak. Terkhusus hal ini banyak ditujukan kepada imam Syafi’i –rahimahullah-.Sebagai contoh : Jika ada seorang yang mengikuti pendapat imam Syafi’i dalam suatu masalah, lalu pendapat itu bertentangan dengan pendapat seorang ustadz, maka orang merasa diselisihi pendapatnya itu akan mengeluarkan berbagai pernyataan : “Imam Syafi’i tidak makshum (bisa salah)”, atau Imam Syafi’i bukan nabi”, atau “Kita mengikuti dalil, bukan ucapan manusia”, atau “ucapan ulama’ bukan dalil”, atau “Pilih mana, mengikuti dalil atau imam Syafi’i”, atau “Imam Syafi’i melarang kita taqlid kepada beliau”, atau “Imam Syafi’i menyatakan : kalau ada hadits shahih itu madzhab beliau”, atau yang mirip dengan ucapan-ucapan ini.

Teks-teks ucapan di atas secara makna tidak salah. Kita sepakat dengan hal ini. Karena memang telah diriwayatkan beberapa ucapan dari beliau yang kurang lebih memiliki makna sebagaimana di atas. Telah diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi’i –rahimahullah- beliau berkata :
إِذاَ صَحَّ الَحدِيْثُ فَهُوَ مَذْهَبِيْ
“Apabila hadits shahih, maka itu madzhabku.” [ Majmu’ Syarhul Muhadzdzab : 1/63 ].

Beliau juga berkata :
آداب الشافعي ومناقبه (ص: 51)
كُلُّ مَا قُلْتُ، وَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلافُ قَوْلِي مِمَّا يَصِحُّ، فَحَدِيثُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْلَى، وَلا تُقَلِّدُونِي
“Seluruh yang aku ucapkan, kemudian ada hadits dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang shahih menyelisihi ucapanku, maka hadits nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- lebih utama. Jangan kalian taqlid kepadaku.” [ Adabusy Syafi’i wa Manaqibuhu karya Ibnu Abi Hatim –rahimahullah- hlm : 67 ].

Beliau juga berkata :
فمهما قلت من قول أو أصلت من أصل فيه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم لخلاف ما قلت فالقول ما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو قولي) . (تاريخ دمشق لابن عساكر 15 / 1 / 3)
“Maka pendapat apa saja yang aku ucapkan, atau dasar apa saja yang aku letakkan di dalamnya, kemudian ada hadits dari Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang menyelisihi apa yang aku ucapkan, maka ucapan yang diikuti adalah apa yang diucapkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan itu adalah pendapatku.” [Tarikh Dimasyqi karya Ibnu ‘Asakir : 15/1/3].

Namun, jika diteliti secara seksama, ada sisi-sisi yang perlu diluruskan dan ditempatkan secara proposional agar kita tidak keluar dari sifat adil dalam menilai ulama’ dan tidak ada kesan ‘menyudutkan’ atau kesan ‘ingin’ mengambing-hitamkan Imam Syafi’i –rahimahullah- saat kita berselisih pendapat dengan beliau. Dan yang lebih penting lagi, “agar kita tahu diri bahwa kita bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa”. Diantara point-point-nya adalah :

>>Pertama :

Kita sepakat, bahwa Imam Syafi’i bisa salah. Karena yang makshum (terjaga dari kesalahan) hanyalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- Karena beliau berbicara dengan wahyu dari Allah Ta’ala, bukan dengan hawa nafsu. Allah berfirman :
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara dengan hawa nafsunya. Tidaklah ia kecuali wahyu yang diwahyukan (oleh Allah) kepadanya.”[ QS. An-Najm ].

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap Bani Adam itu banyak salah. Dan sebaik-baik orang yang banyak salah adalah orang-orang yang banyak bertaubat.” [ HR. Ibnu Majah : 4251 ].

Jika imam Syafi’i saja bisa salah, tentunya para ulama’ kita di zaman ini, ustadz-ustadz kita, serta kita sendiri juga bisa salah. Bahkan prosentase kemungkinan kesalahan kita, lebih besar berlipat-lipat dari imam Syafi’i. Kenapa ? karena imam Syafi’i telah mencapai derajat mujtahid mutlak mustaqil dengan berbagai piranti ijtihad yang lengkap, keilmuan yang sangat luas serta hafalan hadits-hadits nabi yang mencapai puluhan ribu hadits lengkap dengan sanad dan matannya. Sedangkan kita yang hidup di zaman ini, bisa dikatakan ‘tidak punya apa-apa’. Baik dari sisi hafalan dalil ( Al-Qur’an apalagi hadits), ataupun ilmu serta perangkat-perangkat ijtihad. Boro-boro hafal puluhan ribu hadits, kitab “Arbain” yang hanya berisi sekitar empat puluh hadits lebih sedikit saja kita sudah ngos-ngosan.

Seandainya ilmu seluruh ulama’ di zaman ini dikumpulkan, kemudian dibandingkan dengan ilmu imam Syafi’i, maka itu semua tidak akan sebanding dengan ilmu beliau, bahkan mungkin tidak bisa mencapai setengahnya. Bahkan jika kita mau jujur, pada hakikatnya di zaman ini tidak didapatkan seorang ulama’ pun yang masuk level mujtahid yang sebenarnya sebagaimana zaman Imam yang empat. Kalaupun dinamakan mujtahid, itu merupakan makna untuk ukuran zaman sekarang, bukan level para imam terdahulu.

Jika kita termasuk level ‘yang tidak punya apa-apa’, maka kemungkinan salah kita (termasuk di dalamnya ustadz-ustadz kita) jauh lebih besar berlipat-lipat dibandingkan dengan kemungkinan salahnya imam Syafi’i. Oleh karena itu, ucapan-ucapan di atas lebih layak atau amat sangat layak diarahkan kepada kita sendiri atau ustadz-ustadz kita. Tinggal kita ganti kata “imam Syafi’i” dengan kata “kita” atau “ustadz kita”. Misal : “Ustadz kita bisa salah”, atau “jangan taqlid kepada ustadz kita”, atau “ustadz kita bukan dalil”, dst.

>>Kedua :

Ucapan-ucapan di atas mengesankan, seolah-olah imam Syafi’i dalam berpendapat tidak merujuk kepada dalil, atau memakai dalil yang lemah, atau menyelisihi dalil. Ini tuduhan yang sangat tidak beradab kepada seorang ulama’ sekelas beliau. Memang benar beliau bisa salah, namun ucapan-ucapan tersebut sebagai bentuk buruk sangka kepada beliau sebagai seorang imam mujtahid. Boleh saja kita mengucapkan kata-kata itu –walau tidak beradab-, namun sejauh mana kita berani mempertanggungjawabkannya ? sebegitu mudahkah imam syafi’i berbicara tanpa dalil ? sebegitu mudahkah imam syafi’i menyelisihi dalil ? sebegitu mudahkah beliau memakai dalil lemah untuk pendapatnya ? dari mana semua tuduhan ini kita ucapkan ? jangan-jangan sekedar prasangka buruk yang kita tidak pernah punya bukti untuk hal itu dan kita tidak pernah melakukan riset ilmiyyah untuk membuktikan tuduhan-tuduhan kita.

Perhatikan apa yang yang dinyatakan oleh Imam Syaikhul Islam Taqiyyuddin Abul Hasan As-Subki –rahimahullah- (w. 756 H) :

و روينا عن ابن خزيمة الإمام البارع في الحديث و الفقه أنه قيل له : هل تعرف سنة لرسول الله –صلى الله عليه و سلم – في الحلام و الحرام لم يودعها الشافعي كتابه ؟ قال : لا ( معنى قول الإمام المطلبي إذا صح الحديث فهو مذهبي – ص : 92 )

“Kami pernah meriwayatkan dari Ibnu Khuzaimah seorang imam yang mahir dalam ilmu hadits dan fiqh, sesungguhnya beliau pernah ditanya : “Apakah anda tahu ada satu sunnah (hadits) nabi dalam masalah halal dan haram yang belum diletakkan oleh Syafi’i di dalam kitabnya ? beliau menjawab : “Tidak ada”.

Apakah setelah ucapan beliau di atas kita masih bersikukuh akan menyatakan bahwa imam Syafi’I tidak memakai dalil ? Kalaupun suatu ketika kita mendapatkan pendapat imam Syafi’i tanpa menyebutkan dalilnya, bukan berati beliau tidak mendasari pendapat tersebut dengan dalil. “Tidak disebutkan dalilnya” berbeda “dengan tidak ada dalilnya”. Hati-hati ! Sebagaimana dalam kitab “Al-Umm”, dalam banyak kesempatan beliau tidak menyebutkan dalil, bukan tidak bersandar kepada dalil. Hal ini beliau lakukan karena beberapa sebab, seperti untuk meringkas, atau dalilnya sudah terlalu jelas dan masyhur, atau sebab-sebab lain. Seperti ini tidak hanya dilakukan oleh Imam Syafi’i saja, tapi juga imam-imam yang lain, seperti imam Ahmad bin Hambal. Lihat saja kitab “Masail Imam Ahmad” dalam berbagai riwayat.

Bahkan, imam Syafi’i amat sangat marah jika istidlal dengan dalil menjadi perkara yang diremehkan. Imam Ibnu Abi Hatim –rahimahullah (w. 327 H) menyebutkan sebuah riwayat dari Ar-Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi beliau berkata :

آداب الشافعي ومناقبه (ص: 69)
أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ، أَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ، أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمُرَادِيُّ، قَالَ: ” سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ، وَذَكَرَ حَدِيثًا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: تَأْخُذُ بِهِ يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ؟ ، فَقَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ! أَرْوِي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا لا آخُذُ بِهِ؟ ! مَتَى عَرَفْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا، وَلَمْ آخُذْ بِهِ، فَأَنَا أُشْهِدُكُمْ أَنَّ عَقْلِي قَدْ ذَهَبَ ”

“Aku pernah mendengar Syafi’i menyampaikan sebuah hadits dari Nabi –Shallallahu ‘alihi wa sallam-. Maka ada seorang yang bertanya : “Wahai Abu Abdillah (kunyah imam Syafi’i) ! anda berdalil dengannya ?”. Beliau menjawab : “Subhanallah !” Aku meriwayatkan sesuatu (hadits) dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- lalu aku tidak mengambilnya (sebagai dalil) ?!” kapan saja aku telah mengetahui sebuah hadits dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam kondisi aku belum mengambilnya (sebagai dalil), maka aku mempersaksikan kalian sesungguhnya akalku telah hilang.”

>>Ketiga :

Ucapan Imam Syafi’i “apabila hadits itu shahih maka madzhabku” dan yang sejenisnya sebagaimana telah kami sebutkan di atas, itu semua ditujukan kepada para ulama’ mujtahid (yang benar-benar mujtahid dengan berbagai syarat dan piranti ijtihad yang lengkap yang ada pada mereka), bukan ditujukan untuk kita, baik para ustadz terlebih orang awam. Jika para ulama’ di zaman ini saja belum bisa dikatakan mujtahid ala mujtahid yang dimaksud oleh imam Syafi’i kala itu, lantas bagaimana dengan selain mereka seperti kita ini ? tentu lebih tidak pantas lagi.

Imam An-Nawawi –rahimahullah- berkata :

المجموع شرح المهذب (1/ 64)
وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ الشافعي ليس معناه ان كل أحد رَأَى حَدِيثًا صَحِيحًا قَالَ هَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَعَمِلَ بِظَاهِرِهِ: وَإِنَّمَا هَذَا فِيمَنْ لَهُ رُتْبَةُ الِاجْتِهَادِ فِي الْمَذْهَبِ عَلَى مَا تَقَدَّمَ مِنْ صِفَتِهِ أَوْ قَرِيبٍ مِنْهُ: وَشَرْطُهُ أَنْ يَغْلِبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّ الشَّافِعِيَّ رَحِمَهُ اللَّهُ لَمْ يَقِفْ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ أَوْ لَمْ يَعْلَمْ صِحَّتَهُ: وَهَذَا إنَّمَا يَكُونُ بَعْدَ مُطَالَعَةِ كُتُبِ الشَّافِعِيِّ كُلِّهَا وَنَحْوِهَا مِنْ كُتُبِ أَصْحَابِهِ الْآخِذِينَ عَنْهُ وَمَا أَشْبَهَهَا وَهَذَا شَرْطٌ صَعْبٌ قَلَّ من ينصف بِهِ: وَإِنَّمَا اشْتَرَطُوا مَا ذَكَرْنَا لِأَنَّ الشَّافِعِيَّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَرَكَ الْعَمَلَ بِظَاهِرِ أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ رَآهَا وَعَلِمَهَا لَكِنْ قَامَ الدَّلِيلُ عِنْدَهُ عَلَى طَعْنٍ فِيهَا أَوْ نَسْخِهَا أَوْ تَخْصِيصِهَا أَوْ تَأْوِيلِهَا أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ

“Dan yang diucapkan oleh Syafi’i ini, bukan berarti setiap orang yang melihat sebuah hadits shahih kemudian mengatakan ini “madzhab Syafi’i” dan beramal dengan dzahirnya. Ini hanyalah untuk seorang yang memiliki tingkatan ijtihad di dalam madhzab di atas berbagai sifat (kriteria) yang telah telah lalu penyebutannya atau paling tidak mendekatinya. Syaratnya : Prasangka dia telah mendominasi, sesungguhnya Syafi’i –rahimahullah- belum menemukan hadits ini, atau belum mengetahui akan keshahihannya. Dan hal ini, hanya akan terwujud setelah seorang melakukan muthala’ah (membaca dan meneliti) seluruh buku-buku imam Syafi’i, dan semisalnya dari seluruh buku-buku para sahabat beliau yang mengambil ilmu dari beliau dan yang semisalnya. DAN SYARAT INI SANGAT SULIT TERWUJUD DAN SANGAT SEDIKIT ORANG YANG BISA MENYIKAPI PERKARA INI DENGAN ADIL. Para ulama mensyaratkan berbagai hal yang telah kami sebutkan, karena imam Syafi’i meninggalkan untuk mengamalkan makna dzahir banyak hadits yang telah beliau ketahui, akan tetapi telah tegak dalil di sisi beliau akan celaan terhadapnya (lemah), atau telah dihapus hukumnya, atau telah dikhususkan oleh dalil lain, atau ditakwil atau yang semisal dengan itu.”

Contoh kasus :

>> Masalah bekam
Imam Syafi’i –rahimahullah- berpendapat, bahwa bekam tidak membatalkan puasa. Sementara ada hadits yang berbunyi :
أَفْطَرَ الحَاجِمُ وَ الْمَحْجُوْمُ

“Orang yang membekam dan dibekam puasa batal.” (shahih)

Jangan terburu untuk menyatakan imam Syafi’i menyelisihi dalil shahih. Beliau tidak mengamalkan hadits di atas, karena menurut beliau hadits di atas telah dimansukh (dihapus hukumnya). Dan pendapat imam Syafi’i di sini justru yang kuat. Anas bin Malik secara tegas menyatakan bahwa hadits di atas telah mansukh. Dan ini merupakan pendapat jumhur ulama’ (mayoritas ulama’). Silahkan baca artikel kami dalam masalah ini yang telah diposting sebelumnya.

>> Masalah Qunut Subuh
Imam Syafi’i berpendapat akan disyari’atkannya Qunut Subuh. Jangan terburu untuk menyatakan bahwa beliau tidak punya dalil dalam masalah ini lalu menyatakan : “kita diperintah untuk mengikuti Rasulullah, bukan imam syafi’i”. Dari mana anda tahu imam Syafi’i tidak mengikuti dalil ? berapa ratus kitab madzhab Syafi’iyyah yang telah anda baca ? apakah seluruh buku-buku imam Syafi’i telah anda baca ? jika ternyata jawabannya BELUM. Berarti pernyataan anda tersebut hanya sebatas “kecerobohan” yang tidak bernilai apapun. Lebih ceroboh lagi jika anda menyatakan bahwa “Rasulullah” tidak pernah Qunut Subuh, bertaqlid kepada ustadz anda.

Imam Syafi’i dalam menetapkan pendapatnya akan disyari’atkannya Qunut Subuh berdasarkan penetapan sahabat Anas bin Malik, dimana beliau melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan Qunut Subuh. Riwayat ini tercantum dalam “Shahih Muslim”. (silahkan baca artikel kami dalam masalah Qunut Subuh)

Sebagai penutup, di sini kami bawakan sebuah ucapan Imam Ibnu Shalah –rahimahullah- yang dinukil oleh Imam An-Nawawi –rahimahullah- sebagai nasihat bagi kita sekalian :

المجموع شرح المهذب (1/ 64)
قَالَ الشَّيْخُ أَبُو عَمْرٍو رَحِمَهُ اللَّهُ لَيْسَ الْعَمَلُ بِظَاهِرِ مَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ بِالْهَيِّنِ فَلَيْسَ كُلُّ فَقِيهٍ يَسُوغُ لَهُ أَنْ يَسْتَقِلَّ بِالْعَمَلِ بِمَا يَرَاهُ حُجَّةً مِنْ الْحَدِيثِ وَفِيمَنْ سَلَكَ هَذَا الْمَسْلَكَ مِنْ الشَّافِعِيِّينَ مَنْ عَمِلَ بِحَدِيثٍ تَرَكَهُ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ عَمْدًا مَعَ عِلْمِهِ بِصِحَّتِهِ لِمَانِعٍ اطَّلَعَ عَلَيْهِ وَخَفِيَ عَلَى غَيْرِهِ كَأَبِي الْوَلِيدِ مُوسَى بْنِ أَبِي الْجَارُودِ…”

“Asy-Syaikh Abu Amer –rahimahullah- berkata : “Untuk merealisasikan dzahir ucapan imam Syafi’i bukanlah perkara yang mudah. Tidak setiap ahli fiqh diperkenankan untuk bersendiri dalam mengamalkan sebuah hadits yang dia pandang sebagai hujjah. Dan seorang yang berjalan di atas jalan ini dari ulama’ syafiiyyah dari mengamalkan sebuah hadits yang sengaja ditinggalkan oleh Imam Syafi’i, bersama pengetahuan beliau terhadap keshahihan hadits tersebut, disebabkan adanya penghalang atasnya, dan penghalang ini luput atas selalnnya seperti seperti Abul Walid Musa bin Abil Jarud….”

Jika seorang ulama’ besar Syafi’iyyah semisal Abul Walid saja dikritik oleh para ulama’ besar Syafi’iyyah yang lain semisal Ibnu Shalah, An-Nawawi dan yang lainnya karena berani bersendiri dalam mengamalkan suatu hadits yang ditinggalkan oleh imam Syafi’i, maka bagaimana dengan kita ? “semoga Allah merahmati seorang yang tahu akan kadar dirinya”

Demikian ulasan kami kali ini. Jika dibutuhkan atau ada sisi lain yang masih luput dari pembahasan ini, insya Allah akan kami susulkan di bagian dua. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan kita. Amin.

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=268562143915092&id=100022839249697