Oleh:

Alfitri

Dalam bukunya yang berjudul ‘Catatan Terhadap Buku 37 Masalah Populer’, Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi menyimpulkan:

“Dengan demikian maka kita mengetahui lemahnya pendapat al-Imam an-Nawawi tentang haramnya isbal karena sombong dan makruhnya isbal jika tanpa disertai takabur. Yang benar hukumnya adalah haram, sama saja karena sombong atau tidak”.

Apa alasannya? Beliau menjelaskan:

“Berkaitan dengan perkara isbal, ternyata nash muthlaq dan nash muqayyad menyinggungnya. Namun, nash muthlaq tidak diikat nash muqayyad. Sebab, nash-nash yang ada termasuk kategori keadaan yang keempat. Tidak ada perbedaan di kalangan para ulama bahwa pada keadaan yang keempat (sebab dan hukumnya berbeda) maka muthlaq tidak boleh dibawa ke muqayyad”.

Lebih tegas lagi beliau menyatakan:

“Perhatikanlah titik penting ini! Jika hukum berbeda, lalu muthlaq dibawa ke muqayyad (seperti permasalahan isbal) maka berdampak pada pendustaan salah satu hukum terhadap hukum lainnya. Karena jika engkau jadikan (apa yang di bawah mata kaki di neraka) hukumnya seperti orang yang isbal karena sombong, hukumnya jadinya apa?? Sanksinya bukan hukum khusus tetapi hukumannya (hukum yang pertama) naik menjadi lebih berat (berubah menjadi hukum yang kedua, dengan empat ancaman, sebagaimana telah lalu). Dan ini berarti hukum yang ada di hadits yang pertama adalah dusta. Jenis aktivitasnya juga berbeda. Yang pertama menurunkan pakaiannya hingga di bawah mata kaki dan tidak sampai ke tanah tetapi di bawah mata kaki, adapun yang kedua karena dia menyeret-nyeret pakaiannya”.

QULTU:
Ada catatan yang harus diperhatikan As-Sidawi dalam menarik kesimpulan seperti ini. Berikut penjelasannya dalam beberapa poin, yaitu:

PERTAMA, perhatikan penyataan imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim terkait masalah ini, seperti berikut:

وَأَمَّا قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (الْمُسْبِلُ إِزَارَه)ُ، فَمَعْنَاهُ : الْمُرْخِي لَهُ الْجَارُّ طَرَفَهُ خُيَلَاء،ً كَمَا جَاءَ مُفَسَّرًا فِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ يَجُرُّ ثَوْبَهُ خُيَلَاء،َ وَالْخُيَلَاءُ الْكِبْرُ، وَهَذَا التَّقْيِيدُ بِالْجَرِّ خُيَلَاءَ يُخَصِّصُ عُمُوم َالْمُسْبِلِ إِزَارَهُ، وَيَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْوَعِيدِ مَنْ جَرَّهُ خُيَلَاءَ، وَقَدْ رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ذَلِكَ لِأَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَالَ لَسْتَ مِنْهُمْ إِذْ كَانَ جَرُّهُ لِغَيْرِ الْخُيَلَاء.ِ

Dari teks ini terlihat jelas bahwa, hadis ‘Muthlaq’ yang beliau maksudkan dalam konteks ‘Hamlu al-Muthlaq `alal Muqayyad’ di sini adalah, hadis yang berbunyi:

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ» قَالَ: فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَ مِرَارًا، قَالَ أَبُو ذَرٍّ: خَابُوا وَخَسِرُوا، مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الْمُسْبِلُ، وَالْمَنَّانُ، وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ»

Di hadis ini nampak ada kata ‘al-Musbilu’ yang berbentuk ‘Muthlaq’, alias tidak pakai embel-embel ‘Khuyala’/Bathar’ (sombong). Lantas, imam Nawawi menjelaskan bahwa makna dari ‘al-Musbilu’ di hadis ini adalah:

المرخي له الجارّ طرفه خيلاء

Artinya, imam Nawawi memahami bahwa makna ‘al-Isbal’ di situ sama dengan ‘al-Jarru’ yang disebutkan dalam hadis dengan redaksi ‘Muqayyad’, seperti:

لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ يَجُرُّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ

Jadi, nampaknya, kata ‘Isbal’ dan ‘Jarr’ dalam konteks ini punya makna yang sama, dalam pandangan beliau. Kalau betul seperti itu, maka kita bisa berasumsi bahwa dari sisi ‘Sabab al-Hukmi’, kedua hadis ini sudah sama alias tidak berbeda.

Kalau seandainya beliau menilai kedua kata itu tidak sama maknanya, maka rasanya tidak mungkin beliau berani menafsirkan makna ‘al-Musbilu’ dalam hadis Muthlaq itu, dengan makna dari kata ‘Jarra’ yang ada dalam hadis ‘Muqayyad’.

KEDUA, setelah ‘Sabab al-Hukmi’ dari kedua hadis ini bisa dianggap tidak berbeda, maka tinggal lagi persoalan tentang ‘al-Hukmu’ dari kedua hadis; apakah sama atau berbeda.

Bila dibandingkan bentuk sanksi yang disebutkan dalam kedua hadisnya, maka terlihat jelas bahwa secara jumlah memang berbeda, tapi secara substansi tidak kontradiktif karena bisa dikorabolasikan.

Dalam hadis Muthlaq (al-Musbilu) di atas disebutkan empat jenis sanksi, yaitu: (1) Tidak dilihat, (2). Tidak dibersihkan, (3) Tidak diajak berbicara, dan (4) mendapatkan azab yang pedih. Sementara dalam hadis Muqayyad, hanya disebutkan satu jenis sanksi saja, yaitu tidak dilihat Allah.

Karena sanksi yang disebutkan dalam hadis Muqayyad ini juga disebutkan dalam hadis Muthlaq, maka berarti tidak ada kontradiksi samasekali secara substansial.

Dengan demikian, hadis Muthlaq di atas itu bisa dilebur ke dalam hadis Muqayyad, karena keduanya tidak berbeda dari sisi ‘Sabab al-Hukmi’ dan ‘al-Hukmi’. Kalaupun ‘al-Hukmu’ dari kedua hadis ini dianggap berbeda, maka tetap saja peleburan hukum untuk keduanya bisa diterima, karena masuk pada kategori ketiga. As-Sidawi sendiri menjelaskan:

“c. Keadaan ketiga: Adapun jika hukumnya berbeda dan sebabnya sama maka sebagian ulama berpendapat muthlaq tidak dibawa ke muqayyad (ini juga merupakan pendapat Ibnu Qudamah). Ulama yang lain berpendapat bahwa muthlaq dibawa ke muqayyad”.

Nah, lantaran dianggap sama dari dua sisi ini, maka logis saja imam Nawawi menafsirkan kata ‘al-Musbil’ dalam hadis Muthlaq, dengan makna kata ‘Jarra’ dalam hadis Muqayyad.

Lebih dari itu, beliaupun menyimpulkan bahwa keumuman redaksi ‘al-Musbil’ dalam hadis Muthaq itu, dipersempit oleh kata ‘Khuyala’ yang terdapat dalam hadis dengan redaksi Muqayyad, sehingga ancaman yang ada pada hadis Muthlaq itu menjadi terkhusus pada kondisi ‘Khuyala’, seperti yang disebutkan dalam hadis Muqayyad.

Imam Nawawi menyebutkan:

فَمَعْنَاهُ : الْمُرْخِي لَهُ الْجَارُّ طَرَفَهُ خُيَلَاءً؛ كَمَا جَاءَ مُفَسَّرًا فِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ يَجُرُّ ثَوْبَهُ خُيَلَاء،َ وَالْخُيَلَاءُ الْكِبْر،ُ وَهَذَا التَّقْيِيدُ بِالْجَرِّ خُيَلَاءَ يُخَصِّصُ عُمُومَ الْمُسْبِلِ إِزَارَه،ُ وَيَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْوَعِيدِ مَنْ جَرَّهُ خُيَلَاءَ.

KETIGA, Kalaupun peleburan hadis Muthlaq ke dalam Muqayyad tidak bisa diterima dengan menggunakan kaidah ‘Mutlaq-Muqayyad’, maka hal itu bisa diterima dengan menggunakan kaidah ‘Takhsish’.

Seperti yang dijelaskan imam Nawawi, keumuman makna dari kata ‘al-Musbil’ pada hadis Muthlaq itu, bisa di-Takhsish dengan memggunakan ‘Taqyid bil Khuyala’ pada hadis yang Muqayyad. Karena itu, imam Nawawi menyebutkan:

وَهَذَا التَّقْيِيدُ بِالْجَرِّ خُيَلَاءَ يُخَصِّصُ عُمُومَ الْمُسْبِلِ إِزَارَهُ.

KEEMPAT, lantas bagaimana pula dengan hadis Muthlaq lainnya terkait larangan Isbal, seperti:

ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار

atau hadis yang berbunyi:

وإياك وإسبال الإزار فإنها من المخيلة

Wallahua`lam, saya pribadi belum menemukan tanggapan khusus imam Nawawi terkait kedua hadis ini.

Tapi menurut hemat saya pribadi, bila kedua hadis ini ‘ngotot’ dipakai secara ‘Muthlaq’, maka Abu Bakar -Radhiyallahu`anhu- bisa terkena ancaman oleh dua hadis ini.

Kenapa demikian? Sebab, hadis yang menyatakan bahwa Abu Bakar tidak tergolong pelaku Isbal atas dasar sombong itu, jelas menggunakan kata ‘Jarra’, bukan ‘al-Musbil’. Hadisnya berbunyi:

من جرّ ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة، فقال أبو بكر : يا رسول الله، إن إزاري يسترخي إلا أن أتعاهده، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنك لست ممن يفعله خيلاء.

Teks hadis ini jelas ‘Muqayyad’ karena menyebutkan kondisi ‘Khuyala’, lalu Nabi mengecualikan Abu Bakar dari kondisi seperti ini.

Nah, ketika dua hadis di atas tetap dipakai dalam bentuk ‘Muthlaq’, sehingga ancaman dan larangan Isbal itu berlaku bagi yang sombong maupun tidak, maka berarti Abu Bakar tetap terkena oleh dua hadis ini.

Beliau dianggap selamat dari ancaman hadis yang menggunakan kata ‘Jarr’ dan ‘Khuyala’, tapi tidak selamat dari dua hadis di atas. Menyeret, tidak. Lebih dari mata kaki, iya. 🙂

KELIMA, poin-poin di atas berkaitan erat dengan pemahaman bahwa, istilah ‘al-Hukmu’ dalam konteks peleburan teks Muthlaq ke Muqayyad, bermakna sanksi.

Adapun jika istilah ‘al-Hukmu’ dimaknai dengan ‘Hukum Taklify’, seperti: wajib, haram, sunat dan lainnya, maka bagaimana cara peleburan hadis Muthlaq ke dalam hadis Muqayyad untuk kasus ini?

Jawabannya, seperti yang diketahui, masing-masing hadis tentang ancaman Isbal itu menyebutkan sanksi-sanksi spesifik, seperti: masuk Neraka dan mendapatkan azab yang pedih.

Setiap perkara terlarang yang diberikan ancaman berupa sanksi spesifik seperti itu, menunjukkan bahwa larangannya bersifat Haram, alias menimbulkan dosa. Sebab, sesuatu yang diancam dengan neraka atau siksaan, tentu larangannya bersifat haram, tidak mungkin Makruh apalagi Mubah. Atas dasar ini, maka hukum yang ditunjukkan oleh kedua jenis hadis ini; Muthlaq dan Muqayyad, adalah sama-sama Haram.

Jika demikian halnya, maka barulah diperlakukan “Haml” (peleburan) hadis yang Muthlaq kepada yang Muqayyad. Konsekuensinya, setiap hadis Muthlaq yang menyebutkan sanksi spesifik bagi pelaku Isbal, maka hadis itu dipahami berlaku bagi Isbal yang didasari oleh kesombongan.

Wallahua`lam

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1996751097024014&id=100000674302346