Oleh: Abduh Zulfidar Akaha

Hikmah siang: namanya jamaah, pasti banyak orangnya


kalo ada yg bilang jamaah bisa saja sendirian asalkan benar, itu kasuistis. mesti dilihat konteksnya. demikian asal usulnya…


amr bin maimun al-audi berkata; aku pernah bersahabat dg muadz (bin jabal) di yaman. aku tdk prnh berpisah dengannya hingga aku kuburkan jasadnya di syam. kmudian stlh itu aku bersahabat dg orang yg paling faqih, abdullah bin mas’ud ra. aku prnh mendengar dia berkata, “kalian harus bersama jamaah. karna pertolongan Allah itu atas jamaah. “
lalu, suatu hari aku mendengar dia berkata, “kalian akan diperintah oleh para penguasa yg mengakhirkan shalat dari waktunya. maka, shalatlah kalian tetap pd awal waktunya, itu shalat wajib. n shalatlah bersama mereka, itu menjadi shalat sunnah bagi kalian.”

aku berkata; wahai sahabat muhammad, aku tdk tau apa yg engkau bicarakan kpd kami.

ibnu mas’ud; apa itu?

aku; engkau menyuruhku agar menetapi jamaah, tp kmudian engkau menyuruhku agar shalat sendiri, dmana itu adlh shalat wajib, n shalat bersama jamaah dimana itu adlh sunnah?

ibnu mas’ud berkata, “hai amr bin maimun.. aku menganggap engkau ini trmsk di antara orang yg paling faqih di negri ini. taukah engkau apa itu jamaah?”

aku menjawab; tdk.

ibnu mas’ud, “sesungguhnya mayoritas jamaah itu adlh orang2 yg menyelisihi jamaah. jamaah adlh apa yg sesuai dg kebenaran, meskipun engkau seorang diri.”
[ibnu asakir, tarikh dimasyq, 46/409 & ibnul qayyim, ighatsatu al-lahfan, 1/70]
======

berdasar atsar di atas, setidaknya makna jamaah dlm konteks ini ada 2 macam:

1. secara spesifik kasuistis; jika penguasa mengakhirkan shalat wajib dari waktunya, maka kita hendaknya tetap shalat pd awal waktu. skalipun yg shalat pd akhir waktu jumlahnya lbh bnyk, yg benar adlh shalat pd awal waktu, meskipun sendirian.

2. secara umum; amal n pendapat apa pun yg sesuai dg kebenaran, meski pelakunya sdkt, maka itu adlh jamaah. sbaliknya, amal ato pndpt apa pun yg menyimpang dari kebenaran, meski bnyk pelakunya, maka ia bukan jamaah.
——

dsini, kata kuncinya adlh kebenaran. kebenaran yg mutlak. kebenaran yg tdk diperselisihkan, alias kebenaran yg disepakati. al-haqq vs al-bathil. bukan kebenaran yg msh diperselisihkan.

adapun jika dlm mslh ikhtilaf, maka memilih yg mayoritas adlh lbh selamat. disebutkan dlm hadits,
إن أمتي لا تجتمع على ضلالة فإذا رأيتم اختلافا فعليكم بالسواد الأعظم

“sesungguhnya umatku tdk akan berkumpul dlm kesesatan*. jika kalian melihat ada ikhtilaf, maka ikutilah as-sawadul a’zham.” [hr. ibnu majah dari anas bin malik]

* hadits dha’if. tp bnyk syawahid dlm hal ini.
* “kesesatan”, maksudnya; kesalahan
* as-sawadul a’zham: mayoritas manusia


jadi, tdk tepat n tdk pd tempatnya mengaku2 paling benar dlm mslh ikhtilaf, lalu mengatakan; yg dimaksud jamaah adlh kami, meski kami sdkt, karna kami benar n jamaah adlh apa yg menetapi kebenaran.

sebab, yg mayoritas (jamaah/ as-sawadul a’zham) adlh lbh mendekati kebenaran. bukan yg sdkt. sbgmn yg disebutkan dlm hadits.

wallahu a’lam..

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2238929139450878&id=100000014410812