By. Abdullah Barsyah

Sebagian kaum Muslimin mentafwidh kaifiyyah istawa dengan berdasarkan atsar yang dinisbatkan pada Malik bin Anas bahwa kaifiyyah majhul. Atsar Malik soal ini tersebar di kitab-kitab klasik aqidah, tafsir, riwayat (hadits), dan syarah hadits. Setelah dilacak, satu-satunya yang menjadi sumber primer riwayat itu dengan mencantumkan sanad lengkapnya adalah karya Ibnu ‘Abdil Barr. Selain itu, Ibnu ‘Abdil Barr hidup lebih dulu dari para ulama seperti al-Juwaini, al-Ghazali al-Qurthubi, Ibnu Qayyim, Ibnu Taimiyah, dan selain mereka, yang juga menukil riwayat itu. Metode saya: selama riwayat ditemukan referensi primernya dan sanad lengkapnya, maka itu diutamakan daripada penukilan di kitab sekunder yang tidak mencantumkan sanadnya. Apalagi ini bab aqidah, harus ekstra hati-hati meyakini dan menisbatkan. Dalam kitab al-Tamhid lima fi Muwaththa’ min al-Ma‘ani wa al-Masanid juz 7 halaman 138, Ibnu ‘Abdil Barr mencatat atsar Malik dengan sanad lengkapnya:

‎أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْمُؤْمِنِ قَالَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ ابن جَعْفَرِ بْنِ حَمْدَانَ بْنِ مَالِكٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نَافِعٍ قَالَ قَالَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ

‎اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي السَّمَاءِ وَعِلْمُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ لَا يخلو منه مكان قال وقيل لملك الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كَيْفَ اسْتَوَى فَقَالَ ملك رَحِمَهُ اللَّهُ اسْتِوَاؤُهُ مَعْقُولٌ وَكَيْفِيَّتُهُ مَجْهُولَةٌ وَسُؤَالُكَ عَنْ هَذَا بِدْعَةٌ وَأَرَاكَ رَجُلَ سُوءٍ

“Allah ‘Azza wa Jalla fis sama’ dan ilmuNya di semua tempat, tidak ada tempat yang luput dariNya. Dikatakan kepada Malik: Ar-Rahmanu ‘alal ‘Arsyi-istawa, bagaimana istawa? Malik rahimahullah menjawab: istawaNya ma‘qul dan kaifiyyahnya majhul. Pertanyaanmu tentang ini adalah bid‘ah, dan aku menilamu orang yang buruk”

Analisis Sanad

Dua perawi yang bermasalah dalam sanad atsar itu:

1. Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Mu‘min
2. ‘Abdullah bin Nafi’.

Pertama, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Mu‘min

Dia adalah guru Ibnu ‘Abdil Barr. Saat membahasnya, Ibnu Hajar dalam Lisan al-Mizan dan al-Dzahabi dalam Mizan al-I‘tidal merujuk pada penilaian Ibnu al-Faradhi (w. 403 H). Dalam Tarikh ‘Ulama’ al-Andalus jilid 1 halaman 333, Ibnu al-Faradhi menilai shaduq dalam riwayatnya, namun hafalannya tidak baik. Selain itu, tulisannya lemah, kadang-kadang salah ejaan (tulis).

Kedua, ‘Abdullah bin Nafi’

Para ulama mengakui ada dua ‘Abdullah bin Nafi’ yang meriwayatkan dari Malik: ‘Abdullah bin Nafi’ bin Tsabit al-Ashghar dan ‘Abdullah bin Nafi’ bin Abi Nafi’ al-Shaigh. Lantas siapa ‘Abdullah bin Nafi’ yang dimaksud dalam sanad itu?

Cara menentukannya yaitu mengecek siapa saja guru dan murid mereka. Dalam sanad itu Suraij bin Nu‘man meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Nafi’. Setelah mengecek kitab-kitab rijal seperti Tahdzib al-Kamal, Tahdzib al-Tahdzib, al-Jarh wa al-Ta‘dil, dan lainnya, saya tidak menemukan keterangan bahwa Suraij bin Nu’man merupakan murid ‘Abdullah bin Nafi’ al-Ashgar atau murid ‘Abdullah bin Nafi’ al-Shaigh. Begitu pula sebaliknya. Pada biografi Suraij bin Nu‘man, tidak disebutkan bahwa dua ‘Abdullah bin Nafi’ itu merupakan guru Suraij bin Nu‘man. Apa solusinya?

Kalau hubungan antara Suraij dengan dua ‘Abdullah bin Nafi’ tidak ditemukan dalam kitab-kitab rijal, solusi ampuhnya mengandalkan sanad-sanad lain Suraij bin Nu‘man dari ‘Abdullah bin Nafi’ yang selain dari Malik bin Anas. Berikut buktinya:

Sanad lain Suraij bin Nu‘man dari ‘Abdullah bin Nafi’ dalam Musnad Ahmad juz 11 halaman 515, no. 14628:

‎حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا سريج بن النعمان ثنا عبد الله بن نافع عن بن أبي ذئب عن بن أخي جابر بن عبد الله عن جابر بن عبد الله قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Dalam al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain juz 2 halaman 548, no. 3789:

‎حدثنا علي بن حمشاذ العدل ، ومحمد بن أحمد الداربردي ، قالا : ثنا الحارث بن أبي أسامة ، ثنا سريج بن النعمان الجوهري ، ثنا عبد الله بن نافع ، عن عاصم بن عمر ، عن أبي بكر بن سالم ، عن سالم ، عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم

Pada dua sanad itu tampak ‘Abdullah bin Nafi’ yang meriwayatkan darinya Suraij bin Nu‘man punya dua guru yaitu Ibnu Abi Dzi‘ib dan ‘Ashim bin ‘Umar. Nah, sisa cek dalam kitab-kitab rijal ‘Abdullah bin Nafi’ siapa yang berguru kepada keduanya. Dalam Tahdzib al-Kamal jilid 16 halaman 208-209, tercatat yang berguru kepada Ibnu Abi Dzi‘ib dan ‘Ashim bin ‘Umar adalah ‘Abdullah bin Nafi’ al-Shaigh.

Diperkuat dengan sanad dari al-Intiqa’ fi Fadha‘il al-Aimmah al-Tsalatsah halaman 73:

سمعت جعفر بن محمد الصائغ يقول: سمعت سريج بن النعمان يقول: سمعت عبد الله بن نافع الصائغ يقول: كان مالك بن أنس يقول

Berarti jelas ‘Abdullah bin Nafi’ al-Shaigh-lah yang dimaksud dalam sanad atsar كيفيته مجهولة. Lalu, apa status ‘Abdullah bin Nafi’ al-Shaigh?

Yahya bin Ma‘in menilainya tsiqah (Tarikh ‘Utsman bin Sa‘id al-Darimi halaman 153, no. 532). Dia faqih dan bisa jadi i‘tibar, kata al-Daraquthni (Sualat Abi Bakr al-Barqani halaman 92, no. 255). Tsiqah kata al-Hakim (Sualat Mas‘ud bin ‘Ali al-Sijzi halaman 188-189, no. 231). Abu Zur‘ah menilainya la ba‘sa bihi (al-Jarh wa al-Ta‘dil juz 5 halaman 184, no. 856). Kata al-Nasai laisa bihi ba‘sun, ternukil juga ia menilai tsiqah (Tahdzib al-Kamal, jilid 16 halaman 211, no. 3609). Dinyatakan wutstsiqa oleh al-Dzahabi (Mizan al-I‘tidal jilid 2 halaman 513, no. 4647). Tsiqah menurut al-‘Ijli (Ma‘rifat al-Tsiqat juz 2 halaman 64, no. 982). Kitabnya atau catatannya dipuji Abu Hatim dan Ibnu Hibban (al-Jarh wa al-Ta‘dil jilid 5 halaman 184, no. 856 dan al-Tsiqat juz 8 halaman 348)

Abu Zur‘ah menilainya munkar al-hadits (al-Dhu‘afa’ wa Ajwibatuhu ‘ala As‘ilah al-Bardza‘i halaman 375). Al-Bardza‘i pernah menyebut ashhab Malik, lalu Abu Zur‘ah memalingkan wajah saat ‘Abdullah bin Nafi’ al-Shaigh disebutkan (Ibid, halaman 732). Walaupun Ahmad tahu dia shahib dalam pendapat Malik, namun Ahmad tidak menilai baik riwayatnya (Sualat Abi Dawud halaman 226, no. 211). Oleh Ahmad juga dinilai bukan ahli hadits (al-Jarh wa al-Ta‘dil juz 5 halaman 184, no. 856). Ibnu ‘Adi mengakui riwayatnya lurus, dan dia meriwayatkan hal-hal gharib yang dinisbatkan pada Malik (Al-Kamil fi Dhu‘afa’ al-Rijal jilid 7 halaman 59, no. 1071). Lafaz wutstsiqa di atas bukan berarti al-Dzahabi mentsiqahkan. Ia sekedar menunjukkan ada yang menta‘dil (mentautsiq). Tambahan, nama ‘Abdullah bin Nafi’ al-Shaigh dimasukkan dalam al-Mughni fi al-Dhu‘afa’ no. 3396.

Lihat, ternukil jarh wa ta‘dil dari Abu Zur‘ah. Sebenarnya penilaiannya tidak saling bertentangan. Dengan cara dijamak, kita dapat menyimpulkan menurut Abu Zur‘ah tidak bermasalah pada ‘adil ‘Abdullah bin Nafi’ al-Shaigh, tetapi bermasalah sisi dhabithnya sehingga riwayat-riwayatnya munkar. Apalagi ternukil juga Abu Zur‘ah pernah menunjukkan kelemahan hafalannya (al-Dhu‘afa’ wa Ajwibatuhu ‘ala As‘ilah al-Bardza‘i halaman 694). Abu Zur‘ah tidak menyendiri menjarh dhabith ‘Abdullah bin Nafi’ al-Shaigh. Berikut ulama lain yang menjarh dhabithnya:

Dalam Tarikh al-Kabir juz 5 halaman 213, Bukhari berkata:

يعرف حفظه وينكر

Bukhari dengan redaksi lain dalam Tarikh al-Shaghir juz 2 halaman 282:

في حفظه شيء

Riwayat Abu Hatim melalui anaknya dalam al-Jarh wa al-Ta‘dil juz 5 halaman 184:

ليس بحافظ، لين…

Setelah memuji catatan ‘Abdullah bin Nafi’, Ibnu Hibban melanjutkan dalam al-Tsiqat juz 8 halaman 348:

وإذ حدث عن حفظه ربما أخطأ

Tak ketinggalan Ibnu Manjuwaih dalam Rijal Shahih Muslim jilid 1 halaman 395:

في حفظه شيء

Maka ‘Abdullah bin Nafi’ al-Shaigh ialah perawi yang ‘adil, tapi dhabithnya lemah sehingga sebagian riwayatnya mungkar. Berdasarkan data dan analisa tersebut, atsar Malik ini tidak tepat jadi argumen aqidah jika tafarrud karena dua perawi yang lemah dhabithnya. Tertolak juga jika bertentangan dengan lafaz yang dibawa oleh perawi yang lebih tsiqah atau sanad lain yang lebih kuat dari Malik soal ini.
______________

Riwayat Yang Bertentangan

Riwayat kaifiyyah majhul tertolak karena tafarrud. Telah dibuktikan bahwa hanya satu riwayat dengan sanad lengkapnya yang-itupun-tercatat di satu referensi primer. Selain itu, atsar kaifiyyah majhul bertentangan dengan atsar yang lebih kuat dari Malik. Al-Baihaqi meriwayatkan jawaban Malik dalam al-Asma’ wa al-Shifat halaman 1029, no. 873:

الرحمن على العرش استوى كما وصف نفسه، ولا يقال كيف وكيف عنه مرفوع

“Al-Rahmanu ‘ala al-‘Arsyi istawa sebagaimana Dia menyifatkan diriNya. Tidak boleh dikatakan kaifa, dan kaif terangkat (maksudnya dinafikan) dariNya”

Dalam al-Uluw li ‘Aliy al-Ghaffar halaman 138, Al-Dzahabi menilai atsar itu:

وساق البيهقي بإسناد صحيح…

“Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad shahih…”

Saat menukil atsar itu, Ibnu Hajar berkomentar dalam Fathu al-Bari juz 13 halaman 407:

بسند جيد عن عبد الله بن وهب قال…

“Dengan sanad jayyid dari ‘Abdullah bin Wahb yang berkata…”

Bila belum puas dengan penilaian dua ulama besar tersebut, silahkan baca analisa manual berikut. Al-Baihaqi menyebutkan sanad lengkap atsar itu:

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ، أخبرني أحمد بن محمد بن إسماعيل بن مهران، ثنا أبي، حدثنا أبو الربيع بن أخي رشدين بن سعد قال: سمعت عبد الله بن وهب…

1. Abu ‘Abdillah al-Hafizh dalam sanad itu ialah al-Hakim al-Naisaburi, penulis kitab al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain. Saya tak ingin berpanjang lebar tentang al-Hakim karena tak diragukan ketsiqahannya, dan statusnya sebagai syaikh al-muhadditsin dan al-imam al-huffazh.

2. Ahmad bin Muhammad bin Isma‘il bin Mihran. Dia salah satu guru al-Hakim yang tsiqah. Al-Hakim dan al-Dzahabi beberapa kali menshahihkan riwayat-riwayat yang melalui jalur dia. Al-Hakim menshahihkan dalam al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, juz 1 halaman 153, 395, 495, 568, juz 2 halaman 83, 551, juz 3 halaman 251, dan juz 4 halaman 290, 434, 580, 594. Al-Dzahabi menshahihkan dalam al-‘Uluw lil ‘Aliy al-Ghaffar halaman 138, Talkhish di al-Mustadrak juz 2 halaman 551, dan juz 4 halaman 290, 434. Tashhih al-Hakim dan al-Dzahabi menunjukkan status Ahmad bin Muhammad bin Isma‘il bin Mihran tsiqah menurut mereka. Tak ditemukan jarh untuknya.

3. Muhammad bin Isma‘il bin Mihran. Dia faqih dan muhaddits bermazhab Syafi‘i. Al-Dzahabi pernah menilai shaduq masyhur (Mizan al-I‘tidal, juz 3 halaman 485). Tapi al-Dzahabi beberapa kali menilai dia tsiqah dan menilai riwayat-riwayatnya shahih (al-‘Uluw lil ‘Aliy al-Ghaffar halaman 138, Siyar A‘lam al-Nubala’ juz 14 halaman 117, Talkhish di al-Mustadrak, juz 1 halaman 45, 316, dan juz 2 halaman 126). Bahkan al-Hakim yang lebih dekat masa hidupnya menilainya tsiqah ma‘mun (Siyar A‘lam al-Nubala’ juz 14 halaman 118, Lisan al-Mizan juz 6 halaman 575, dan Thabaqat al-Huffazh juz 1 halaman 300). Maka yang rajih adalah statusnya tsiqah hafizh.

Masalah: Lantas bagaimana dengan keterangan al-Dzahabi di Mizan al-I‘tidal juz 3 halaman 485, bahwa riwayat dari Muhammad bin Isma‘il bin Mihran dha‘if beberapa tahun sebelum wafatnya? Dha‘if karena hafalannya berubah pada akhir usianya, sebagaimana dijelaskan al-Dzahabi dalam al-Muqtana fi Sadr al-Kuna juz 1 halaman 122.

Apakah atsar yang kita bahas ini statusnya dha‘if karena hafalannya berubah? Jawaban: tidak dha‘if. Memang menurut al-Dzahabi hafalannya berubah pada akhir usianya, tapi al-Dzahabi juga menshahihkan atsar ini di kitab al-‘Uluw halaman 138. Dengan cara dijamak, maka kesimpulannya Ahmad bin Muhammad bin Isma‘il bin Mihran meriwayatkan atsar ini dari ayahnya (Muhammad bin Isma‘il bin Mihran) sebelum hafalan ayahnya berubah. Oleh karena itu, al-Dzahabi menilai shahih sanad atsar ini.

4. Abu Rabi’ bin akhi Risydin. Namanya Sulaiman bin Dawud bin Hammad bin Sa‘ad. Dia faqih mazhab Maliki dan guru Abu Dawud, al-Nasa‘i, dan al-Dulabi. Abu Dawud memujinya dengan ungkapan “sedikit orang yang kulihat dalam keutamaannya” (Sualat Abi ‘Ubaid al-Ajurri, jilid 2 halaman 164). Al-Nasa‘i menilainya tsiqah (Asma’ Syuyukh al-Nasa‘i halaman 93). Ibnu Hibban menyebutkan dalam al-Tsiqat. Dalam Taqrib al-Tahdzib halaman 406, Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyimpulkan statusnya tsiqah.

5. ‘Abdullah bin Wahb bin Muslim. Dia hafizh, faqih, ahli ibadah dan termasuk ashhab Malik. Al-‘Ijli menilainya tsiqah (al-Tsiqat juz 1 halaman 283). Ibnu Hibban menyebutkan dalam al-Tsiqat. Al-Khalili menilai tsiqah (al-Irsyad fi Ma‘rifah ‘Ulama al-Hadits, juz 1 halaman 255). Ahmad bin Hanbal menilainya shahih al-hadits dan apa yang dia riwayatkan dari masyaikhnya berstatus shahih (al-Jarh wa al-Ta‘dil jilid 5 halaman 189). Al-Duri meriwayatkan dari Yahya bin Ma‘in bahwa dia tsiqah (Tarikh Ibnu Ma‘in juz 2 halaman 336). Abu Zur‘ah menilai tsiqah dan menurut Ahmad bin Abu Bakr, masa‘il Ibnu Wahb dari Malik statusnya shahih (al-Jarh wa al-Ta‘dil jilid 5 halaman 190). Dalam Taqrib al-Tahdzib halaman 556, Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyimpulkan statusnya tsiqah.

Kesimpulan: atsar Malik yang menafikan kaif (ولا يقال كيف وكيف عنه مرفوع) sanadnya shahih dan tak mengandung ‘illat (cacat). Atsar inilah yang menggugurkan atsar kaifiyyah majhul. Maka, penisbatan yang betul pada Malik adalah menafikan kaifiyyah. Penisbatan ini sejalan dengan perkataan Ibnu Rajab dalam kitab Fathu al-Bari juz 7 halaman 233:

‎وأما طريقة أئمة أهل الحديث وسلف الامة: فهي الكف عن الكلام في ذلك من الطرفين، وإقرار النصوص وإمرارها كما جاءت، ونفي الكيفية عنها والتمثيل.

Itu bukti mazhab ahli hadits dan salaf menafikan kaif. Bila ada orang atau kelompok yang mengklaim diri bermanhaj Salaf atau sesuai manhaj ahli hadits, namun tidak menafikan kaif, berarti klaimmya itu palsu atau bagai debu yang berterbangan. Oh iya, Ibnu Rajab bermazhab Hanbali lho. Awas lho mentahdzir Ibnu Rajab karena pengakuannya tersebut😁

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=202135523912033&id=100023467595876