Barusan tadi, saya menyimak siaran kajian seorang ustad-Doktor (Salafi) di Islamic Center Bangkinang. Materinya hadis dalam Riyadh as-Shalihin, berkenaan dengan ketaatan pada pemimpin.

Yang menarik perhatian, ketika menyinggung potongan hadis berbunyi:

… ما قادكم بكتاب الله …

“… selama pemimpin itu menggiringmu dengan Kitab Allah…”.

Beliau menjelaskan bahwa ‘Mafhum Mukhalafah’ itu lemah, terutama yang terkait dengan ‘bis-Shifah’. Karena itu, menurut beliau, ketaatan pada pemimpin itu tidak disyaratkan pemimpinnya berpegang pada Kitab Allah. Sebab, ‘Mafhum Mukhalafah’ dari potongan hadis itu lemah.

Baik, jika ‘Mafhum Mukhalafah’ itu lemah, maka tentu imam Muslim tidak membuat judul khusus untuk potongan hadis berikut ini:

…. أفلا نقاتلهم؟ قال: لا ما صلوا.

“… Apakah kami boleh memerangi mereka (pemimpin)? Nabi menjawab: Tidak boleh, selama mereka masih melaksanakan salat”.

Perhatikan, hadis ini dikumpulkan oleh imam Muslim dalam satu bab berjudul:

باب وجوب الإنكار على الأمراء فيما يخالف الشرع، وترك قتالهم ما صلوا ونحو ذلك

“Bab tentang kewajiban melarang para pemimpin dalam perkara yang bertentangan dengan Syariat, serta tentang larangan memerangi mereka SELAMA MEREKA MASIH SALAT DAN SEMISALNYA”.

Bahkan, ketika mensyarah potongan hadis ini, imam Nawawi memahaminya lebih luas lagi, seperti yang terlihat berikut ini:

ففيه معنى ما سبق أنه لا يجوز الخروج على الخلفاء بمجرد الظلم أو الفسق ما لم يغيروا شيئًا من قواعد الإسلام

“…… Selama mereka tidak merubah sesuatu yang termasuk kaidah (ajaran pokok) Islam”.

Sebelumnya, Qadhi Iyadh juga menyatakan hal yang serupa, seperti yang dikutip oleh imam Nawawi sendiri, yaitu:

قال القاضي عياض : أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر، وعلى أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل، قال : وكذا لو ترك إقامة الصلوات والدعاء إليها.

“….. Demikian juga bila pemimpin itu sudah meninggalkan salat dan ajakan salat”.

Dalam Syarh Shahih Muslim-nya, imam al-Qurthuby juga menjelaskan:

وكذلك : لو ترك إقامة قاعدة من قواعد الدين ؛ كإقام الصلاة ، وصوم رمضان ، وإقامة الحدود ، ومَنَع من ذلك . وكذلك لو أباح شرب الخمر ، والزنى ، ولم يمنع منهما ، لا يختلف في وجوب خَلْعِهِ

“Dan demikian juga, bila pemimpin itu tidak melaksanakan ajaran pokok agama, seperti SALAT, puasa, penegakan hukum ‘Hudud’ serta melarangnya. Begitu juga, bila pemimpin membolehkan minum Khamr dan berzina, serta tidak melarang keduanya. Kewajiban mencopot pemimpin (seperti ini), disepakati ulama”.

Nah, apa yang dijelaskan ulama ini terkait bolehnya mencopot atau memerangi pemimpin yang sudah tidak salat, adalah wujud ‘Mafhum Mukhalafah’ dari potongan hadis di atas, berbunyi:

…. ما صلوا …

“… selama mereka masih salat…”.

Kalau sudah tidak salat? Maka silahkan dicopot atau diperangi, jika memang mampu untuk melakukan itu.

Satu hal lagi. Potongan hadis yang berbunyi:

…. ما قادكم بكتاب الله …

“… selama pemimpin itu menggiring kalian dengan Kitabullah”.

atau yang berbunyi:

… ما أقام فيكم كتاب الله …

“… selama pemimpin itu menegakkan Kitabullah pada kalian…”.

Keduanya bisa dipahami ‘selama tidak merubah ajaran pokok Islam’, sehingga tidak bertentangan dengan ‘Manthuq’ hadis-hadis yang menyuruh tetap patuh pada pimpin, walau mereka memukul dan merampas harta rakyatnya.

Artinya, ‘Manthuq’ hadis-hadis itu berbicara tentang kezaliman dan kefasikan, sementara potongan hadis di atas berbicara tentang persoalan ‘merubah ajaran Kitabullah’, seperti dengan membolehkan perzinahan dan minum Khamar.

Wallaahua`lam

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2036151669750623&id=100000674302346