(Edisi menjelang lebaran)

Oleh : Abdullah Al Jirani

Ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada kami tentang masalah ucapan “minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin” di hari raya. Karena -katanya- ucapan ini ada yang membid’ahkan. Yang sunnah cuma ucapan “taqabbalallahu minna wa minkum”. Benarkah demikian ?

Pembaca yang budiman. Ucapan “Taqobballohu minna wa minka” telah diriwayatkan dari Jubair bin Nufair-rodhiallohu ‘anhu- beliau berkata :

كان أصحاب النبي – صلى اللهُ عليه وسلَّم – إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض: تقبَّل الله منا ومنك

“Para sahabat nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam- apabila bertemu di hari raya, sebagian mereka mengucapakan “taqobballahu minna wa minka” ( semoga Alloh menerima amal ibadah kita dan kamu ) kepada sebagian yang lain”. [ HR. Al-Mahamili dalam “Kitab Sholatil ‘Idain” : 2/192/2 ].

Riwayat di atas telah dihasankan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar –rohimahullah- beliau berkata :

وَرَوَيْنَا فِي الْمَحَامِلِيَّاتِ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ….

“Dan kami telah meriwayatkan dalam “Mahamiliyat” dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair beliau berkata……-kemudian disebutkan ucapan di atas-.” [ Fathul Bari : 2/446 ].

Faidah :
Asy-Syaikh Al-Albani –rohimahullah- sempat meniadakan tahsin ( penghasanan ) Ibnu Hajar –rohimahullah- terhadap ucapan Jubair bin Nufair di atas ketika memberikan catatan kaki terhadap ucapan Asy-Syaikh Sayyid Sabiq dalam bukunya “Fiqhus Sunnah” dengan mengucapkan :

ولم أقف على هذا التحسين في شيء من كتبه

“Aku tidak menemukan penghasanan ini sedikitpun dalam buku-buku beliau ( Ibnu Hajar ).” [ Lihat : Tamamul Minnah : 354 ].
Setelah itu, pernyatakan Asy-Syaikh Al-Albani –rohimahullah- di atas dikritik oleh sebagian penuntut ilmu. Dimana mereka menyatakan bahwa Ibnu Hajar telah menghasankan riwayat di atas dalam “Fathul Bari” dengan menyebutkan jilid dan no halamannya. Lalu setelah itu, Asy-Syaikh Al-Albani menerima masukan tersebut seraya menyatakan :

ثم كتب بعض إخواننا الطلاب تعليقا على نفيي المتقدم فقال: بل قال الحافظ في “الفتح” 2 / 446:

“Kemudian sebagian saudara-saudara kami dari penuntut ilmu menulis catatan atas peniadaanku ( terhadap tahsin Ibnu Hajar terhadap riwayat di atas ) yang telah lalu, dia mengatakan : “Bahkan Ibnu Hajar telah berkata dalam Fathul Bari 2/446…..” – kemudian menyebutkan lafadz Ibnu Hajar yang telah kami sebutkan di atas – [ Tamamul Minnah : 356 ].

Setelah kita tahu, bahwa riwayat ucapan “taqobballahu minna wa minkum” dari sebagian sahabat nabi shohih, perlu untuk kita ketahui, bahwa ucapan selamat model seperti ini, merupakan salah satu bentuk ucapan selamat hari raya. Akan tetapi bukanlah satu-satunya yang diperbolehkan.

Karena ucapan selamat, merupakan perkara dunia/adat saja, bukan masalah ibadah. Sehingga hukum asalnya boleh serta tidak membutuhkan kepada dalil. Sebagaimana dalam kaidah telah disebutkan :

الأصل في العادات الإباحة حتى يرد الدليل على تصريفه إلى معى آخر

“Hukum asal dalam perkara adat adalah boleh, sampai datang dalil yang memalingkan kepada makna yang lain.” ( yang belum paham, silahkan belajar ushul fiqh dulu dengan baik, benar, dan paham ).

Ucapan selamat di hari raya, hanyalah masalah adat istiadat saja. Oleh karena itu, segala bentuk dan macam ucapan selamat pada asalnya boleh selama tidak terdapat pelanggaran syari’at di dalamnya. Barang siapa yang mengharamkan, dituntut untuk mendatangkan dalil.

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin –rohimahullah- juga berpendapat, bahwa ucapan selamat hari raya, hanyalah masalah adat/dunia saja. Beliau –rohimahullah- berkata :

التهنئة بالعيد قد وقعت من بعض الصحابة رضي الله عنهم، وعلى فرض أنها لم تقع فإنها الآن من الأمور العادية التي اعتادها الناس، يهنىء بعضهم بعضاً ببلوغ العيد واستكمال الصوم والقيام.

“Ucapan selamat hari raya, telah terjadi di kalangan para sahabat –rodhiallohu ‘anhum-. Taruhlah ditetapkan bahwa hal itu belum pernah terjadi, maka hal tersebut, sekarang ini telah menjadi perkara adat yang telah dilakukan oleh manusia terus-menerus. Sebagian mereka mengucapkan selamat kepada sebagian yang lain dengan kedatangan hari raya dan sempurnanya puasa dan sholat.” [ Majmu’ Fatawa : 16/208 ].

Ucapan selamat di hari raya Idul Fitri di negara kita sangat banyak ragam dan macamnya. Barang siapa yang membatasi harus “Taqobballahu minna wa minkum” saja, maka dituntut untuk mendatangkan dalil. Dan dalam prasangka besar kami, dia tidak akan mampu untuk mendatangkannya. Alloh berfirman :

قل هاتوا برهانكم إن كنتم صادقين

“Katakan wahai Muhammad ! datangkanlah hujjah-hujjah kalian jika kalian orang-orang yang benar !”.

Ucapan selamat yang berbunyi “Minal A’idin wal Faizin” ,merupakan ucapan yang bagus dan maknanya baik. Apa maknanya ? maknanya adalah “semoga Alloh menjadikan kita bagian orang-orang yang kembali ( suci/bersih ) dan orang-orang yang beruntung”. Ini suatu do’a yang luar biasa. Do’a ini juga tidak bertentangan dengan ajaran Islam sama sekali. Oleh karena itu, hukumnya kembali kepada hukum asal, yaitu boleh.

Simak dengan cermat fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin –rohimahullah- berikut ini !

وسئل فضيلة الشيخ – رحمه الله تعالى -: ما حكم التهنئة بالعيد؟ وهل لها صيغة ميعنة؟ فأجاب فضيلته بقوله: التهنئة بالعيد جائزة، وليس لها تهنئة مخصوصة، بل ما اعتاده الناس فهو جائز ما لم يكن إثماً.

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin –rohimahullah- pernah di tanya : “Apa hukum mengucapkan selamat di hari raya ? apakah ada bentuk ucapan tertentu/khusus untuknya ?”. Beliau menjawab : “Ucapan selamat di hari raya boleh, dan tidak ada ucapan selamat secara khusus. Bahkan apa yang telah menjadi adat manusia, maka hal itu boleh selama bukan merupakan perbuatan dosa.” [ Majmu’ Fatawa : 16/210 ].

Orang yang mengharuskan ucapan selamat hari raya dengan kalimat “taqobballahu minna wa minkum”, dia telah menghkhususkan sesuatu yang tidak pernah dikhususkan oleh Alloh dan Rosul-Nya. Dia telah membatasi apa yang tidak pernah dibatasi oleh Alloh dan Rosul-Nya. Dan dia telah berbicara dalam urusan agama tanpa ilmu.

Bahkan jika dipaksakan ucapan selamat yang ‘nyunnah’ itu harus persis dari nabi, jika tidak berarti bid’ah, maka ucapan “taqobballahu minna wa minkum” itu sendiri menurut kaidah ini juga bid’ah. Kenapa ? karena ucapan itu hanya diriwayatkan dari sahabat saja, bukan dari nabi-shollallahu ‘alahi wa sallam-. Tidak ada satupun hadits yang shohih yang menunjukkan nabi mengucapkan kalimat itu di hari raya.

Alangkah bagusnya apa yang telah diriwayatkan dari Aisyah –rodhiallohu ‘anha- beliau berkata :

مَا أَسْرَعَ النَّاسَ إِلَى أَنْ يَعِيبُوا مَا لَا عِلْمَ لَهُمْ بِهِ

“Alangkah cepatnya orang-orang mencela apa yang tidak mereka ketahui.” [ HR. Muslim : 973 ].

Menurut kami, justru ucapan selamat di hari raya yang paling mudah dipahami oleh masyarakat kita di Indonesia, paling familiar, serta sudah menjadi adat dalam kurun waktu yang panjang, redaksinya kurang lebih seperti ini :

“Selamat hari raya Idul Fitri 143… H, Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Dan akan lebih baik jika didepannya ditambah dengan kalimat “taqabbalallahu minna wa minkum” (semoga Alloh menerima amal ibadah kami dan kalian).

Memakai adat yang telah berjalan di suatu tempat, lebih utama daripada kita keluar darinya, selama adat tersebut tidak ada bentuk pelanggaran terhadap syari’at. Sebagaimana telah dinyatakan oleh Al-Imam Ibnu Aqil Al-Hambali –rohimahullah- beliau berkata :

لا ينبغي الخروج من عادات الناس

“Tidak pantas untuk keluar dari adat istiadat manusia”. [ Al-Adab Asy-Syari’iyyah : 2/47 ].

Semoga bermanfaat.

23 Ramadhan 1439 H