Sebagian orang berusaha memerangi taqlid, mengajak manusia untuk meninggalkannya, meninggalkan pendapat para Imam Mujtahidin dari kalangan Ulama Salaf, namun pada saat bersamaan mereka justru terjatuh kepada sikap yang buruk, yakni taqlid kepada Ustadz atau Syaikh kontemporer favoritnya.

Kita saksikan hari ini sebagian orang menukil fatwa Syaikh Fulan, Syaikh Fulan, dan Syaikh Fulan. Mereka mengatakan ikuti pendapat ini, karena ada dalilnya, karena sesuai sunnah, karena pendapat ini rajih (unggul), dan perkataan-perkataan lain semisalnya.

Padahal, hakikatnya mereka hanya taqlid pada Syaikh Fulan dan Syaikh Fulan, dan tidak mengambil dalil secara langsung. Bagaimana mungkin mereka mengambil dalil secara langsung, padahal mereka tidak memahami cara berinteraksi dengannya. Tidak paham tafsir, tidak paham mushthalah hadits, tidak paham ushul fiqih, dan yang lebih parah: tidak paham bahasa Arab..!

Kalaupun mereka langsung mengambil dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah dijamin akan lebih banyak salahnya daripada benarnya.

Dan terbukti hari ini banyak sekali pendapat-pendapat yang baru yang tidak ditemukan pada masa Salaf, generasi terbaik umat ini.

Ketika kaum muslimin secara umum telah memilih Imam mana yang paling layak untuk ditaqlidi, maka hal tersebut benar dilakukan, karena bagi orang awam tugas mereka adalah mengambil pendapat para Imam Mujtahidin. Namun, sebagian penuntut ilmu kemudian mengatakan untuk meninggalkan pendapat dan fatwa para Imam Salaf lalu menggiring umat untuk taqlid kepada Ustadz favoritnya, yang bahkan tidak pernah diketahui, apakah mereka itu telah sampai pada derajat mujtahid sehingga layak untuk ditaqlidi atau sebetulnya juga seorang muqallid..?

Ketika mereka berkata, Ustadz kami berkata dengan dalil. Maka, saksikanlah bahwa para Imam Mujtahidin juga berkata dan berfatwa dengan dalil..! Bahkan, para Imam Mujtahidin jauuuuuh lebih luas pemahamannya, lebih dalam ilmunya, dan lebih dekat dengan kebenaran dalam memahami dalil daripada Ustadznya..!

Maka, siapa yang lebih layak untuk diikuti? Para Imam Mujtahidin atau Ustadz favoritnya?

Jangan sampai justru pada saat kita mengklaim bermanhaj salaf dan sedang meniti jalan di atasnya, justru malah menanggalkan pendapat para Ulama Salaf untuk beralih kepada pendapat orang-orang yang derajat keilmuannya jauh di bawah para Imam Mujtahidin yang mu’tabar dari kalangan Ulama Salaf.

Syaikh Hamid Akram Al-Bukhari bercerita bahwa beliau senang sekali saat membaca kisah pendek di Twitter yang menceritakan seorang Ibu datang kepada Hakim untuk meminta fatwa, kemudian si Hakim bertanya, ingin jawaban dari Al-Quran dan As-Sunnah atau pendapat Imam Syafii? Maka si Ibu lebih memilih pendapat Imam Syafii, karena ia lebih yakin dan lebih percaya terhadap pemahaman Imam Syafii terhadap Al-Quran dan As-Sunnah daripada pemahaman Hakim tersebut terhadap Al-Quran dan As-Sunnah.

Jelas sekali, kitapun seharusnya lebih yakin dan lebih percaya kepada pemahaman para Imam Mujtahidin yang mu’tabar dari kalangan Ulama Salaf, baik itu Abu Hanifah, Malik, Syafii, Ahmad, Ats-Tsauri, Az-Zuhri, Al-Auza’i, Laits dan selain mereka dari kalangan Salaful Ummah, lebih dari keyakinan dan kepercayaan kita dari generasi kontemporer, apalagi kepada orang yang bahkan bahasa Arab saja belum dikuasai dengan baik.

Wallaahu a’lam.

-Laili Al-Fadhli-
Semoga Allaah mengampuninya dan juga keluarganya.

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1529935760468259&id=100003555485295