Oleh : Abdullah Al Jirani

Telah dimaklumi bersama, bahwa Qunut Subuh merupakan masalah yang diperselihkan oleh para ulama’. Sebagian ulama, yaitu Hanafiyyah dan Hanabilah memandang tidak disyari’atkan. Sedangkan Malikiyyah dan Syafi’iyyah, berpendapat disyari’atkan. Kalau selama ini biasanya kita terbiasanya dengan membaca dan mendengar argumentasi para ulama’ yang tidak mensyari’atkan, ada baiknya kita sekali-kali menengok argumentasi para ulama’ yang mensyari’atkan. Tujuannya, agar wawasan kita kita lebih terbuka, sehingga akan melahirkan cara berfikir dan cara bersikap yang lebih bijak dan lebih baik dalam masalah ini.

Telah diriwayatkan dalam “Shahih Muslim” (1/468) No : (298-677), beliau (Imam Muslim) –rahimahullah- berkata :

صحيح مسلم (1/ 468)
298 – (677) وَحَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ مُحَمَّدٍ، قَالَ: قُلْتُ لِأَنَسٍ: ” هَلْ قَنَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ؟ قَالَ: نَعَمْ، بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا ”

Amer An-Naqid dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku, mereka berdua berkata : Islmail telah menceritakan kepada kami, dari Ayyub dan Muhammad, dia berkata : “Aku bertanya kepada Anas : “Apakah Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan qunut di dalam shalat Subuh ? Beliau (Anas bin Malik) menjawab : “Ya, (qunut) sebentar setelah ruku’.”

Imam An-Nawawi –rahimahullah- berkata :

شرح النووي على مسلم (5/ 176)
(باب اسْتِحْبَابِ الْقُنُوتِ فِي جميع الصلاة) إذا نزلت بالمسلمين نازلة والعياذ بالله واستحبابه في الصبح دائما وبيان أن محله بَعْدَ رَفْعِ الرَّأْسِ مِنَ الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الأخيرة واستحباب الجهر به. مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّ الْقُنُوتَ مَسْنُونٌ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ دَائِمًا

Bab “Dianjurkannya Qunut di seluruh shalat” : Apabila ada suatu peristiwa besar yang menimpa kaum muslimin – wal ‘iyyadzu billah-. Adapun dianjurkannya di dalam shalat Subuh, maka berlaku terus-menerus. Tempatnya setelah mengangkat kepada dari ruku’ di rekaat terakhir. Dan dianjurkan untuk mengeraskannya. Madzhab Syafi’i –rahimahullah-, sesungguhnya qunut disunnahkan di dalam shalat Subuh secara terus-menerus.”

Imam An-Nawawi –rahimahullah- berkata :

شرح النووي على مسلم (5/ 178)
قَوْلُهُ ثُمَّ بلغنا أنه تَرَكَ ذَلِكَ يَعْنِي الدُّعَاءَ عَلَى هَذِهِ الْقَبَائِلِ وَأَمَّا أَصْلُ الْقُنُوتِ فِي الصُّبْحِ فَلَمْ يَتْرُكْهُ حتى فارق الدنيا كذا صَحَّ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

“Ucapannya “KEMUDIAN BELIAU –shallallahu ‘alaihi wa sallam- MENINGGALKAN HAL ITU”, artinya : (yang ditinggalkan) do’a kejelekan untuk kabilah-kabilah ini. Adapun asal qunut di dalam shalat Subuh, maka beliau tidak meninggalkannya sampai beliau meninggal dunia, sebagaimana hal ini telah shahih dari Anas –radhiallahu ‘anhu-.”

Adapun riwayat Sa’ad bin Thariq –radhiallahu ‘anhu- yang dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi –rahimahullah- dalam “Sunan-nya” beliau berkata :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، عَنْ أَبِي مَالِكٍ الأَشْجَعِيِّ، قَالَ: قُلْتُ لأَبِي: يَا أَبَةِ، إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، هَاهُنَا بِالكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ، أَكَانُوا يَقْنُتُونَ؟، قَالَ: أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ.

“Ahmad binMani’ telah menceritakan kepada kami, dia berkata : Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami, dari Abu Malik Al-Asyja’i ( Sa’ad bin Thoriq bin Asyyam) dia berkata : “Aku bertanya kepada bapakku : Wahai bapakku ! sesungguhnya engkau telah sholat di belakang Rosulullah –shollallahu ‘alaihi wa sallam-, Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, dan Ali bin Abi Thalib di negeri Kufah ini selama kurang lebih limat tahun. Apakah mereka semua melakukan qunut ? beliau menjawab : “Wahai anakku, (qunut itu) muhdats (yang yang baru atau diada-adakan).” [ HR. At-Tirmidzi : 402 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani –rahimahullah-]

Peniadaan qunut yang dinyatakan oleh Sa’ad bin Thariq, sesuai dengan apa yang dia tahu. Dan ketidaktahuan seseorang terhadap suatu perkara, tidak mesti menjadikan sesuatu itu tidak ada. Sebagaimana dinyatakan dalam suatu kaidah :

عدم العلم لا يلزم العدم

“Ketiadaan ilmu terhadap sesuatu, tidak mengharuskan sesuatu itu tidak ada.

Karena mungkin saja dia meniadaan tentang sesuatu sesuai dengan apa yang dia ketahui. Sementara sangat mungkin orang lain menetapkannya. Karena orang lain ini memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki oleh orang yang meniadakan. Sebagaimana Anas bin Malik telah menetapkan bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan qunut Subuh. Dalam hal ini berlaku kaidah :

المثبت مقدم على النافي

“Orang yang menetapkan lebih didahulukan dari orang yang meniadakan.”

Maka penetapan dari Anas bin Malik bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan Qunut Subuh, lebih didahulukan dan diunggulkan daripada peniadaan yang dinyatakan oleh Sa’ad bin Thariq. Karena pada diri orang yang menetapkan, terdapat ilmu yang tidak dimiliki oleh orang yang meniadakan. Dalam kaidah lain disebutkan :

الذي يعلم حجة لمن لم يعلم

“Orang yang mengetahui hujjah (dalil) atas orang yang belum tahu.”

Di dalam “Syarhu Ma’anil Atsar” (1/239) disebutkan :

شرح معاني الآثار (1/ 249)
فَقَالَ: «أَيْ بُنَيَّ , مُحْدَثٌ» قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ: فَلَسْنَا نَقُولُ: إِنَّهُ مُحْدَثٌ , عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ قَدْ كَانَ , وَلَكِنَّهُ قَدْ كَانَ بَعْدَهُ مَا رَوَيْنَاهُ فِيمَا قَدْ رَوَيْنَاهُ فِي هَذَا الْبَابِ قَبْلَهُ. فَلَمَّا لَمْ يَثْبُتْ لَنَا الْقُنُوتُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , رَجَعْنَا إِلَى مَا رُوِيَ عَنْ أَصْحَابِهِ فِي ذَلِكَ

“Ucapannya “WAHAI ANAKKU ! ITU (QUNUT SUBUH) MUHDATS (PERKARA BARU)”. Abu Ja’far (Ath-Thahawi) berkata : “Maka kami tidak mengatakan sesungguhnya qunut subuh itu muhdats (perkara baru) sebagai suatu perkara yang belum pernah ada. Akan tetapi telah ada setelahnya di dalam apa-apa yang kami riwayatkan dalam bab ini sebelumnya. Maka tatkala qunut subuh tidak tetap dari Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam- bagi kami, kami kembali kepada apa yang diriwayatkan dari para pasahabatnya di hal itu.”

Jadi, kalaupun hadits yang secara langsung menunjukkan Nab –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak ada, atau ada tapi dhaif (lemah), maka kita kembali kepada apa yang diriwayatkan dari para sahabat. Diantaranya, riwayat Anas bin Malik yang telah kami sebutkan di atas.

Disamping itu, riwayat Sa’ad bin Thariq di atas, masih ada kemungkinan dimana beliau menyatakan demikian dalam beberapa kesempatan saja. Tapi tidak dalam seluruh kesempatan. Karena awalnya, sifat qunut subuh dilakukan secara berkala saja. Sebagaimana hal ini telah dinyatakan Asy-Syaikh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi’ –rahimahullah- beliau berkata :

سنن ابن ماجه (1/ 393) شرح محمد فؤاد عبد الباقي
(أي بني محدث) يدل على أن القنوت كان أحيانا. والظاهر أنه كان في الوقائع.

“Perkataan “WAHAI ANAKKU ! ITU (QUNUT SUBUH) MUHDATS (PERKARA BARU)”, hal ini menunjukkan sesungguhnya qunut (awalnya) dilakukan secara berkala (kadang-kadang). Dan yang tampak, sesungguhnya (Sa’ad bin Thariq) menyaksikannya di dalam beberapa kejadian saja.”

Oleh karena itu, hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik –radhiallahu ‘anhu- yang berbunyi :

مسند أحمد مخرجا (20/ 95)
12657 – حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ يَعْنِي الرَّازِيَّ، عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: «مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا»

“Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- senantiasa melakukan Qunut di shalat Subuh sampai meninggal dunia.”

Hadits ini telah dihasankan oleh sebagian ulama’ ahli hadits, diantaranya imam Al-Hakim dan Al-Haitsami. Jika derajatnya hasan, maka selesai sudah. Namun jikapun kita tetapkan dhaif (lemah) secara sanad dikarenakan di dalamnya ada rawi yang bernama Abu Ja’far Ar-Razi, maka secara makna yang terkandung shahih, karena telah didukung oleh hadits Anas bin Malik dalam “Shahih Muslim” yang telah kami sebutkan sebelumnya.

Imam Al-Baghawi –rahimahullah- berkata :

شرح السنة للبغوي (3/ 123)
وَذَهَبَ قَوْمٌ إِلَى أَنَّهُ يَقْنُتُ فِيهَا، يَرْوِي بَعْضُهُمْ ذَلِكَ عَنْ: عُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ، وَعُرْوَةَ، وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ، وَالشَّافِعِيُّ، حَتَّى قَالَ الشَّافِعِيُّ: إِنْ نَزَلَتْ بِالْمُسْلِمِينَ نَازِلَةٌ، قَنَتَ فِي جَمِيعِ الصَّلَوَاتِ، وَتَأَوَّلَ هَؤُلاءِ قَوْلَهُ: «ثُمَّ تَرَكَهُ»، أَيْ: تَرَكَ اللَّعْنَ وَالدُّعَاءَ عَلَى أُولَئِكَ الْقَبَائِلِ الْمَذْكُورَةِ فِي الْحَدِيثِ، أَوْ تَرَكَهُ فِي الصَّلَوَاتِ الأَرْبَعِ، وَلَمْ يَتْرُكْهُ فِي الصُّبْحِ، يَدُلُّ عَلَيْهِ مَا عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: «مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي صَلاةِ الصُّبْحِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا».قَالَ الْحَاكِمُ: وَإِسْنَادُ هَذَا الْحَدِيثِ حَسَنٌ.

“Sebagian kaum berpendapat, sesungguhnya dianjurkan untuk qunut subuh di shalat subuh. Sebagian mereka meriwayatkan hal ini dari Umar, Utsman, Ali, Abu Hurairah, Urwah, dan hal ini merupakan pendapat imam Malik bin Anas dan imam Asy-Syafi’i. Imam Asy-Syafi’I sampai berkata : “Jika kaum muslimin ditimpa oleh suatu peristiwa besar, maka qunut di seluruh shalat. Mereka menta’wil (mentafsirkan) ucapan “KEMUDIAN BELIAU MENINGGALKAN”, artinya : meninggalkan laknat dan do’a kejelekan untuk para kabilah yang tersebut dalam hadits, atau beliau meninggalkan dalam shalat yang empat waktu, dan tidak meninggalkan dalam shalat subuh. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik beliau berkata : “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- senantiasa melakukan Qunut di shalat Subuh sampai meninggal dunia.” Al-Hakim berkata : dan sanadnya hasan.”

Demikianlah pembahasan sederhana tentang masalah qunut subuh. Artikel ini tidak punya tujuan untuk “memaksa” anda yang tadinya tidak qunut untuk kemudian qunut, atau yang qunut untuk tidak qunut. Karena masalah ini termasuk masalah khilafiyyah ijtihadiyyah. Masing-masing kita boleh dan sah untuk memilih pendapat mana yang kuat menurutnya untuk diamalkan. Namun setelah itu, wajib bagi kita untuk saling menghormati dan berlapang dada dengan saudara kita yang mungkin pendapatnya berbeda dengan kita. Tidak boleh untuk saling mencaci, menghina, memboikot, apalagi menyesatkan.

Artikel ini juga membuka mata kita, betapa pembahasan Qunut Subuh itu tidak sesederhana yang dibayangkan oleh sebagian orang. Dan kita semakin sadar, akan kebodohan dan kekerdilan diri-diri kita, serta bagimana tingginya kedudukan para imam besar di zaman itu. Wallahu a’lamu bish shawab.
—-
Foto dibawah dari “Syarah Shahih Muslim” cetakan Dar Ihyaut Turats Al Arabi”. Nukilan yg di dalam artikel langsung dari “Shahih Muslim” dengan penerbit yg sama.