Oleh: Muhamad Abduh Negara

(Oleh: Syaikh Yusuf ‘Abdullah Al-Mishri, dalam kitab beliau “Al-Madkhal Li Dirasah As-Sunnah An-Nabawiyyah”)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits Shahihayn, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, menyatakan:

لا تسافر امرأة إلا ومعها ذو محرم

Artinya: “Seorang perempuan tidak boleh safar, kecuali bersama mahramnya.”

‘Illah dari larangan ini adalah: kekhawatiran akan keadaan si perempuan saat ia safar sendirian, tanpa suami atau mahram. Pada masa itu, safar hanya menggunakan kendaraan unta, bighal, atau keledai, dan biasanya safar tersebut melewati padang pasir dan daerah yang tak berpenghuni. Jika si perempuan tak mengalami bahaya, tetap saja hal itu kurang pantas dipandang orang.

Namun, jika keadaan telah berubah, sebagaimana di masa kita sekarang, saat safar sudah menggunakan pesawat atau kereta api yang mampu membawa ratusan penumpang, dan tidak ada lagi kekhawatiran terjadinya bahaya saat perempuan safar sendirian, maka safar tanpa mahram pada kondisi ini tak masalah menurut Syariat. Juga tak dianggap menyelisihi Hadits di atas.

Bahkan pemahaman ini didukung oleh Hadits ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari:

فإن طالت بك حياة لترين الظعينة ترتحل من الحيرة حتى تطوف بالكعبة لا تخاف أحدا إلا الله

Artinya: “Jika usiamu panjang, engkau akan melihat seorang perempuan (tanpa mahram) melakukan perjalanan dari Hirah hingga thawaf di Ka’bah, ia tidak takut apapun kecuali Allah.”

Hadits ini disampaikan Nabi berkaitan dengan pujian atas kejayaan Islam, berkibarnya panji Islam di segenap penjuru bumi, dan tersebarnya keamanan di muka bumi. Dan itu menunjukkan bolehnya seorang perempuan safar tanpa mahram. Dan istidlal ini yang digunakan oleh Ibnu Hazm.

Karena itu, tidak mengherankan jika sebagian aimmah (para ulama mujtahidin) membolehkan perempuan berhaji tanpa diikuti mahram dan suami, jika ia bersama para perempuan yang terpercaya, atau bersama rombongan yang aman. Haji seperti inilah yang ditunjukkan oleh ‘Aisyah dan ummahatul mu’minin lainnya, di masa ‘Umar. Tidak ada mahram yang menemani mereka. Yang menemani mereka hanyalah ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Semoga Allah meridhai mereka semua. (Ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Bahkan sebagian ulama menyatakan, ia cukup ditemani seorang perempuan yang terpercaya.

Sebagian lagi menyatakan, ia boleh safar sendirian, jika jalan yang ditempuhnya aman. Pendapat ini yang dishahihkan oleh penulis Al-Muhadzdzab dari kalangan Syafi’iyyah.

Ketentuan ini berlaku dalam perjalanan Haji dan ‘Umrah. Namun, sebagian fuqaha Syafi’iyyah memberlakukannya untuk seluruh safar.

Diterjemahkan secara bebas dan disunting seperlunya oleh: Muhammad Abduh Negara

Catatan dari penerjemah:

Persoalan safar tanpa mahram di zaman sekarang, ini merupakan perkara khilafiyyah di kalangan ulama kontemporer. Perbedaan pendapat ini kami hormati tanpa celaan sama sekali.

Hanya saja, kami posting tulisan dari beliau ini, untuk memperkaya wawasan kita dalam memahami Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.