Bolehkah seorang peminta fatwa (mustafti) dari kalangan awam, menuntut atau meminta kejelasan dalil dari fatwa yang diterimanya dari seorang ulama (mufti)?

Dalam kitab Adabul Mufti wal-Mustafi, Ibnu as-Shalah menjelaskan:

[العاشرة] : لا ينبغي للعامي أن يطالب المفتي بالحجة فيما أفتاه به، ولا يقول له: لم وكيف؟ فإن أحب أن تسكن نفسه بسماع الحجة في ذلك، سأل عنها في مجلس آخر أو في ذلك المجلس بعد قبول الفتوى مجردة عن الحجة.

“Kesepuluh, penanya (mustafti) dari kalangan awam tidak patut menuntut dalil dari fatwa yang disampaikan ulama (mufti) kepadanya. Demikian juga tidak layak menanyakan kepadanya: ‘kenapa dan bagaimana fatwa bisa seperti itu?’.

Apabila orang awam memang ingin dirinya tenang dengan cara mendengarkan ulasan dalil dari fatwa yang ditanyakan, maka sebaiknya itu dia minta pada kesempatan lain, atau pada saat itu juga tapi setelah menerima fatwa tanpa dalil itu terlebih dahulu”.

وذكر السمعاني: أنه لا يمنع من أن يطالب المفتي بالدليل لأجل احتياطه لنفسه، وأنه يلزمه أن يذكر له الدليل إن كان مقطوعًا به، ولا يلزمه ذلك إن لم يكن مقطوعًا به لافتقاره إلى اجتهاد يقصر عنه العامي، والله أعلم بالصواب.

“As-Samani berpendapat bahwa orang awam tidak perlu dilarang meminta dalil fatwa yang diberikan oleh seorang mutfi kepadanya, demi kehatian-hatian bagi dirinya. Disamping itu, seorang mufti harus menjelaskan dalil dari fatwanya, jika dalil tersebut tidak bersifat multi tafsir (qathi). Jika tidak, maka mufti tidak harus melakukan itu, karena untuk melakukan itu diperlukan ijtihad yang tidak akan mampu dipahami oleh orang awam. Wallaahualam”.

Dalam pengantar kitab al-Majmu syarh al-Muhaddzab, imam an-Nawawi juga menyampaikan hal senada, yaitu:

وَيَنْبَغِي لِلْعَامِّيِّ أَنْ لَا يُطَالِبَ الْمُفْتِيَ بِالدَّلِيلِ وَلَا يَقُلْ لِمَ قُلْتَ، فان أحب ان تسكن نفسه بسماع الْحُجَّةِ طَلَبَهَا فِي مَجْلِسٍ آخَرَ أَوْ فِي ذَلِكَ الْمَجْلِسِ بَعْدَ قَبُولِ الْفَتْوَى مُجَرَّدَةً.

“Orang awam sepatutnya tidak menuntut mufti yang dia tanya, untuk menjelaskan dalil dari fatwanya, termasuk juga menanyakan: ‘Kok berfatwa seperti itu?’.

Jika memang ingin dirinya tenang dengan mendengarkan dalil dari fatwa, maka hendaknya itu ditanyakan pada kesempatan lain, atau pada saat itu juga tapi setelah menerima fatwa tanpa dalil itu terlebih dahulu”.

وَقَالَ السَّمْعَانِيُّ : لَا يُمْنَعُ مِنْ طَلَبِ الدَّلِيل،ِ وَأَنَّهُ يلزمه الْمُفْتِي أَنْ يَذْكُرَ لَهُ الدَّلِيلَ إنْ كَانَ مَقْطُوعًا بِهِ وَلَا يَلْزَمُهُ إنْ لَمْ يَكُنْ مقطوعا به لا فتقاره إلَى اجْتِهَادٍ يَقْصُرُ فَهْمُ الْعَامِّيِّ عَنْهُ. وَالصَّوَابُ الاول.

“Menurut as-Samani, orang awam tidak perlu dilarang menanyakan dalil, dan mufti harus menjelaskan dalil dari fatwanya, bila dalil tersebut tidak multi tafsir. Apabila tidak seperti itu, maka mufti tidak harus menjelaskannya, karena hal ini membutuhkan ijtihad yang tidak akan bisa dipahami oleh orang awam yang bertanya. Dan yang tepat adalah pendapat pertama”.

Jadi, sebelum bertanya ‘mana dalilnya?’ kepada ulama yang ditanya, ya sebaiknya ukur dan bercermin diri dulu.

Wallaahualam

Ustadz Alfitri