Pada saat Daurah Majlis Sama’ Shahih Al-Bukhari di Wadi Mubarak kemarin, kami melihat salah seorang murid dari Asy-Syaikh Hamid Akram Al-Bukhari asal Suriah sengaja menyempatkan diri hadir pada pembukaan Daurah sebagai bentuk penghormatan. Padahal beliau sedang beraktivitas di Malaysia. Menurut kabar yang kami terima beliau adalah dosen di salah satu Universitas di Malaysia.

Pada saat Syaikh Hamid memasuki ruangan utama Masjid, maka beliaupun segera berdiri untuk menyambut Syaikh. Lalu, menarik tangannya untuk menciumnya, dan berusaha membungkukkan badan untuk meraih kaki Syaikh untuk menciumnya. Namun, Syaikh menahan badannya sehingga belum sempat mencapai kaki Syaikh.

Sebagian orang berpikir bentuk penghormatan seperti ini begitu berlebihan. Maka kami berusaha mencari uraian dari beberapa hal yang masih kami ingat. Walhamdulillaah kami bisa menemukan jawaban yang lebih detail.

Hukum mencium tangan ‘Ulama, Guru dan kerabat yang lebih tua adalah sunnah dan dianjurkan sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat pada Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam berdasarkan hadits-hadits shahih.

وَيُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ يَدِ الْحَيِّ لِصَلَاحٍ وَنَحْوِهِ من الْأُمُورِ الدِّينِيَّةِ كَزُهْدٍ وَعِلْمٍ وَشَرَفٍ كما كانت الصَّحَابَةُ تَفْعَلُهُ مع النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم كما رَوَاهُ أبو دَاوُد وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ وَيُكْرَهُ ذلك لِغِنَاهُ وَنَحْوِهِ من الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ كَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ عِنْدَ أَهْلِ الدُّنْيَا لِخَبَرِ من تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِنَاهُ ذَهَبَ ثُلُثَا دِينِهِ

“Dan disunahkan mencium tangan orang yang masih hidup karena kebaikannya dan sejenisnya yang tergolong kebaikan-kebaikan yang bersifat ‘diniyyah’ (agama), seperti kezuhudannya, ilmunya, dan kemuliaannya sebagaimana dahulu para sahabat melakukannya pada Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dan selainnya dengan sanad yang shahih.

Dan dimakruhkan perbuatan tersebut (mencium tangan) seseorang karena kekayaannya atau hal lain yang bersifat duniawi seperti lantaran butuh dan hajatnya pada orang yang memiliki harta dunia berdasarkan hadits “Barangsiapa merendahkan diri pada orang kaya karena kekayaannya hilanglah 2/3 agamanya”. [Asnaa al-Mathaalib III/114]

Dalam kitab Sunan yang tiga (Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasa-i), dari Bunda ‘A-isyah radhiyallaahu ‘anha ia berkata:

ما رأيت أحدا كان أشبه سمتا وهديا ودلا برسول الله من فاطمة، وكان إذا دخلت عليه قام إليها فأخذ بيدها فقبلها وأجلسها في مجلسه ، وكانت إذا دخل عليها قامت إليه فأخذت بيده فقبلته، وأجلسته في مجلسها

“Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih mirip dengan Rasuulullah dari Fathimah dalam sifatnya, cara hidup dan gerak-geriknya. Ketika Fathimah datang kepada Nabi, Nabi berdiri menyambutnya lalu mengambil tangannya kemudian menciumnya dan membawanya duduk di tempat duduk beliau, dan ketika Nabi datang kepada Fathimah, Fathimah berdiri menyambut beliau lalu mengambil tangan beliau kemudian menciumnya, setelah itu ia mempersilahkan beliau duduk di tempatnya”.

Riwayat ini juga mengabarkan kepada kita bolehnya berdiri untuk menyembut seseorang (yang dihormati Agamanya) yang datang ke suatu tempat jika memang bertujuan untuk menghormati bukan untuk bersombong diri atau menampakkan keangkuhan.

Begitu pun dengan mencium kaki, sebagaimana yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Maajah dari Shafwan bin ‘Assaal mengenai dua orang Yahudi yang datang kepada Nabi, lalu mereka mencium kaki dan tangan Nabi:

عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ رضي الله عنه إلى قَولهَ: فَقَبَّلُوا يَدَهُ وَرِجْلَهُ ، فَقَالَا : نَشْهَدُ أَنَّكَ نَبِيٌّ

Dari Shafwan bin ‘Assaal radhiyallaahu ‘anhu, sampai perkataan beliau: “Lalu mereka mencium tangan dan kaki Nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan berkata “Kami bersaksi bahwa engkau adalah seorang Nabi”.”

Juga sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan Ath-Thabrani sebagai berikut:

عَنْ الزَّارِعِ ، وَكَانَ فِي وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ : لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ، جَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا ، فَنُقَبِّلُ يَدَيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَيْهِ

Dari Az-Zaari’ dan beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata: “Ketika sampai di Madinah kami bersegera turun dari kendaraan kami, lalu kami mencium tangan dan kaki Nabi shallallaahu ‘alayhi wasallam“.

Hadits ini dihukumi dihukum jayyid (baik) oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam kitab Fathul Baari, hasan lighairihi oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth (sunan Abi Daud 7/513 cetakan Risalah Ilmiah), dan juga Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahih Abu Dawud.

Bila ada yang mengatakan bahwa semua itu hanya khusus bagi Rasuulullaah, maka ia telah keliru, karena Ibnu ‘Abbas pernah mencium tangan Zaid bin Tsabit:

Ibnu ‘Abbas berkata: “Berikanlah tanganmu.” Maka diberikanlah tangan ibnu Abbas lalu zaid menciumnya.” (HR. Ibnu Saad dan Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan sanadnya Jayyid).

Diriwayatkan juga bahwa Al-Imam Muslim hendak mencium kaki Al-Imam Al-Bukhari, sebagaimana diceritakan Al-Khathib dalam “Taarikh Baghdad”:

عن أحمد بن حمدون القصار قال : سمعت مسلم بن الحجاج وجاء إلى محمد بن إسماعيل البخاري فقبَّل بين عينيه ، وقال : دعني حتى أقبِّل رجليك ، يا أستاذ الأستاذين ، وسيد المحدثين ، وطبيب الحديث في علله

Dari Ahmad bin Hamdun Al-Qashaar, ia berkata: “Aku mendengar Muslim bin Al-Hajjaj pergi menemui Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari dan mencium kepalanya (di antara kedua matanya). Al-Imam Muslim berkata: “Biar aku cium kedua kakimu wahai guru dari para guru, penghulu ulama hadits dan “dokter” hadits yang mengetahui cacat-cacat hadis.”

Al-Imam An-Nawawi dalam Ar-Raudhah mengatakan:

وَأَمَّا تَقْبِيلُ الْيَدِ ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُورِ الدِّينِيَّةِ ، فَمُسْتَحَبٌّ ، وَإِنْ كَانَ لِدُنْيَاهُ وَثَرْوَتِهِ وَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ ، فَمَكْرُوهٌ شَدِيدُ الْكَرَاهَةِ

“Adapun mencium tangan (seseorang), jika karena kezuhudan dan kesalihan orangnya, atau karena ilmunya, atau karena kemuliaannya (dalam Agama), atau karena ia menjaga perkara keagamaan, maka hukumnya mustahab (disunnahkan). Namun apabila karena dunianya, kekayaannya, kedudukannya (memiliki “power”), jabatannya, atau selainnya (dari urusan duniawi), maka hukumnya sangat makruh.”

Mengenai mencium kepala dan kaki, Al-Imam An-Nawawi berkata dalam Al-Majmu’:

وتقبيل رأسه ورِجله : كيَده

“Dan mencium kepala serta kaki: hukumnya sama dengan mencium tangan.”

Para Ulama yang lain kurang lebih memiliki pendapat yang sama tentang persoalan ini. Dalil-dalil mengenai hal ini pun banyak sekali.

Maka dari itu, mencium tangan dan kaki kedua orang tua atau orang-orang yang mulia dari sisi Agama merupakan perbuatan yang disukai selama tidak menjadikan semua itu sebagai ajang untuk menyombongkan diri, seperti sengaja menyodorkan tangan atau kaki untuk dicium, atau hal-hal lain yang menunjukkan keangkuhan dan kesombongan.

Wallaahu a’lam.

➖ Ustadz Laili Al-Fadhli Hafizhahullah ➖

Beberapa Referensi hasil Googling:
https://muslim.or.id/30087-hukum-cium-tangan.html
http://kmnu-itb.weebly.com/dalil-amaliyah-aswaja/dalil-kesunahan-mencium-tangan-guru-atau-ulama
http://www.alkhoirot.net/2016/02/hukum-sujud-di-bawah-kaki-ibu.html?m=1#5
https://darulilmi.org/2015/04/17/hukum-cium-kaki-manusia-yang-mulia-disisi-islam-seperti-ibu-bapa-dan-ulama/
http://www.fimadani.com/hukum-mencium-tangan-ulama/

Iklan