Oleh: Abdul Wahab Ahmad

Banyak pendaku salafi yang memprotes Asy’ariyah ketika mereka berkata bahwa Allah tak berada di dalam ruang/tempat tertentu sebab mengatakan Allah bertempat dalam ruang berarti mengatakan bahwa Allah dibatasi oleh ruang yang mengelilinya dan membutuhkan tempat yang menampung diri-Nya. Kalau tak berada dalam ruang maka apa bedanya dengan tak ada sama sekali?, kata pendaku salafi. Bukankah ulama salaf mengatakan bahwa Allah berada di atas sana dan tidak di arah lain?, gugatan mereka selanjutnya.

Untuk menjawabnya, silakan perhatikan pernyataan Syaikh Ibnu Taymiyah, yang mereka sanjung-sanjung itu, dalam Majmu’ Fatawa-nya berikut ini:

مجموع الفتاوى (16/ 100-101)
وَالسَّلَفُ وَالْأَئِمَّةُ وَسَائِرُ عُلَمَاءِ السُّنَّةِ إذَا قَالُوا ” إنَّهُ فَوْقَ الْعَرْشِ وَإِنَّهُ فِي السَّمَاءِ فَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ ” لَا يَقُولُونَ إنَّ هُنَاكَ شَيْئًا يَحْوِيهِ أَوْ يَحْصُرُهُ أَوْ يَكُونُ مَحَلًّا لَهُ أَوْ ظَرْفًا وَوِعَاءً سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْ ذَلِكَ بَلْ هُوَ فَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ مُسْتَغْنٍ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ وَكُلُّ شَيْءٍ مُفْتَقِرٌ إلَيْهِ. وَهُوَ عَالٍ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْحَامِلُ لِلْعَرْشِ وَلِحَمَلَةِ الْعَرْشِ بِقُوَّتِهِ وَقُدْرَتِهِ. وَكُلُّ مَخْلُوقٍ مُفْتَقِرٌ إلَيْهِ وَهُوَ غَنِيٌّ عَنْ الْعَرْشِ وَعَنْ كُلِّ مَخْلُوقٍ.
“Ulama salaf, para imam dan ulama sunnah ketika mereka berkata ‘Sesungguhnya Allah ada di atas Arasy dan bahwa sesungguhnya Allah di langit di atas segala sesuatu’, mereka TAK BERMAKSUD BAHWA DI ATAS SANA ADA SESUATU YANG MELINGKUPINYA, MEMBATASINYA, ADA TEMPAT BAGINYA ATAU ADA WADAH YANG MENAMPUNGNYA. Allah Ta’ala Maha Suci dari hal itu. Tetapi Dia di atas segala sesuatu dan tidak butuh segala sesuatu sedangkan segala sesuatu butuh kepada-Nya. Dia Maha Tinggi atas segala sesuatu. Dialah yang dengan kekuatan dan kekuasaannya telah membawa Arasy sekaligus para malaikat yang menopang Arasy. Semua makhluk butuh kepada-Nya sedangkan Dia tidak butuh Arasy maupun semua makhluk”.

Andai yang saya nukil mengatakan itu adalah tokoh ulama Asy’ariyah seperti Imam al-Qurthuby, al-Baihaqi, al-Baqillany, ar-Razi, Imamul Haramain, al-Ghazali, an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan lain-lain, maka tentu pendaku salafi akan protes keras dengan segala gugatan yang sudah basi; dibilang mengingkari istawa lah, mengatakan Allah tak di Arasy lah, mengingkari sunnah lah, pembahasan bid’ah lah, memuja akal lah, dan seterusnya. Kita lihat bagaimana responnya ketika yang mengatakannya adalah orang yang mereka sebut sebagai Syaikhul Islam. Barangkali ada yang muncul di kolom komentar.

Apakah mereka akan mengatakan bahwa yang dinafikan adalah al-makan al-makhluq (tempat yang berupa ciptaan Allah) sehingga berarti menetapkan adanya tempat yang bukan makhluk? Apakah mereka akan mengatakan bahwa penjelasan di atas adalah tentang al-makan al-‘adamy (tempat ketiadaan) yang berarti mengatakan bahwa Allah fil ‘adami (Allah berada dalam ketiadaan)? Kita tunggu saja penjelasan mereka para pendaku pengikut salafunas shaleh itu barangkali ada.

Andai para pendaku salafi itu mau konsisten dengan penjelasan imam mereka ini, tentu titik persamaan antara mereka dan Asy’ariyah itu sangat dekat. Tapi bukan pendaku salafi sejati kalau bisa konsisten dan mau disamakan dengan Asy’ariyah. Mereka yang konsisten dan mau berangkulan dengan Asy’ariyah biasanya ditahdzir habis-habisan.

Semoga bermanfaat.