Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Banjar hafizhahullaahu ta’aala

Seorang muballigh, penceramah, da’i, ustadz, atau nama-nama lainnya, perlu mengenalkan umat dengan para ulama yang sejati. Yang pendapat-pendapatnya memang layak diikuti.

Jika umat lebih kenal Ustadz A, Ustadz B, Ustadz C yang populer di YouTube, namun tak kenal Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Abu Hanifah, dan yang semisal mereka, maka ada yang perlu diperbaiki dari pengajian kita.

Catatan:

Yang saya maksud “umat” di sini adalah anak-anak pengajian, anak-anak “baru hijrah”, dan yang semisalnya.

===========

Sekadar ada dalil, tidak menunjukkan bahwa pendapat yang dikemukakan itu bisa diambil.

Ada proses istinbath ahkam dari dalil, yang hanya bisa dilakukan oleh seorang ulama mujtahid.

Seandainya agama ini hanya sekadar “menyebutkan dalil”, tanpa kapasitas keilmuan yang memadai, maka akan rusak jadinya.

Dampak buruk:

1. Umat tidak bisa membedakan lagi, siapa yang layak dirujuk dalam persoalan agama, siapa yang bukan. Siapa yang layak berijtihad, siapa yang berhak menukil saja.

Karena tidak bisa membedakan, sangat mungkin mereka menganggap pernyataan seorang penceramah dalam satu perkara sebagai konsep agama, padahal itu hanya “kengawuran” penceramah tsb, dan tidak ada satupun ulama mu’tabar yang mengajukan konsep tsb.

2. Umat tidak memahami kedudukan para imam mujtahidin. Karena itu sangat mungkin ia akan katakan “Asy-Syafi’i keliru dalam persoalan ini”, hanya bermodalkan kutipan dalil dari ustadz favoritnya. Ia tak bisa membedakan level sang imam dengan ustadz yang dikaguminya, yang sebenarnya bagaikan bumi dengan langit.

3. Mayoritas ulama menyatakan orang awam wajib bertaqlid kepada ulama. Nah, ulama yang wajib ditaqlidi ini adalah ulama mujtahidin.

Ketidak pahaman posisi ulama mujtahidin ini akan menyebabkan orang awam “salah dalam bertaqlid”. Ia akan anggap taqlid dengan ustadznya, sama boleh/wajibnya, dengan bertaqlid pada Imam Asy-Syafi’i dan imam mujtahidin lainnya. Padahal ustadznya, bukan mujtahid.

===========

Pertama:

Saya tidak membatasi mujtahid hanya 4 orang. Hanya saja, memang Imam empat madzhab (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal) memang memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

Selain mereka, masih ada mujtahidin di era Shahabat dan Tabi’in, yang lebih alim dari Imam empat madzhab. Hanya saja, kodifikasi madzhab mereka tidak sekuat empat madzhab.

Ada juga Imam Ibnu Hazm yg bermadzhab Zhahiri. Ada Al-Bukhari, Abu Dawud, Ath-Thabari, dll, yang -minimal menurut sebagian ulama- tidak mengikuti madzhab yang empat.

Ada juga ulama mujtahid di lingkungan empat madzhab, seperti Al-Muzani, Al-Mawardi, An-Nawawi, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani, Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyyah, dll.

Kedua:

Kepada para penceramah, perlu diingatkan untuk lebih mengedepankan pendapat2 para imam mujtahidin, dan mereka (para penceramah ini) hanya menukil pendapat para imam mujtahidin. Boleh saja mereka condong ke salah satu pendapat, tapi ia tetap harus sandarkan pendapat itu ke imam mujtahid, bukan ke dirinya.

Hanya saja, yang mengingatkan para penceramah ini hendaknya para penceramah juga.

Ketiga:

Kepada masyarakat secara umum, jamaah pengajian, mereka harus terus diingatkan untuk lebih memilih kajian2 keislaman yang jelas sumber rujukannya. Bukan sekadar memilih kajian karena popularitas penceramahnya, bagusnya retorika, dll.

Diambil dari
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=439020126540856&id=100012986166196

Sumber gambar
https://www.slideshare.net/mobile/ustsarwat/ijtihad-42112291