“Ucapan Minal-‘Â-idîn wal-Fâ-izîn Salah?”

*Beredar tulisan dari ngustad-ngustad Pesbuk GPK Kokohiyyun yang menyalahkan perkataan yang biasa diucapkan oleh Ummat Islâm di Nusantara, yaitu “minal-‘â-idîn wal-fâ-izîn” atau:

“من العائدين و الفائزين”

Katanya itu adalah ucapan yang tidak jelas karena artinya… karena dikatakan artinya yang “kita kembali dan meraih kemenangan” itu tak jelas maksudnya apa… bahkan menurut mereka kata-kata itu juga tidak jelas asal-usulnya dan tak dikenal oleh orang ‘Arab sana.

Maka mereka mengatakan sebaiknya hanya mengucapkan: “taqobbalallôhu minnâ wa minkum” – “تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُم” yang artinya: “semoga Allôh menerima ‘amalku dan ‘amal kalian”.

Memang sebaik-baiknya ucapan adalah “taqobbalallôhu minnâ wa minkum”, karena itu memang jelas ada sunnah-nya.

Namun…

Benarkah ucapan “minal-‘â-idîn wal-fâ-izîn” itu salah sama sekali?

Begini…

Di dalam ‘ilmu balaghoh di dalam Bahasa ‘Arab, ada teknik yang namanya îjâz (إيجاز) dengan idhmâr (إضمار), hadzf (حذف), dan ibhâm (إبهام), yang mirip dengan teknik reduction dalam gramatika dan retorika bahasa-bahasa Indo-Eropa seperti bahasa-bahasa: Albanian, Anatolian, Armenian, Balto-Slavic, Celtic, Germanic, Hellenic, Indo-Iranian, dan Italic.

Contohnya adalah perkataan “Erdoğan disappointed” atau “Razan shot dead” yang biasa ditemui di headline media masa, di mana copula dengan tense yang lengkapnya sengaja dibuang / tidak disebutkan. Kalau dimaknai secara dangkal, maka kedua kalimat tersebut adalah kalimat tak lengkap, tak jelas, dan bisa jadi dikatakan tak ada asal-usulnya.

Namun pembaca berita, tidak akan menyimpulkan aneh-aneh dari keduanya, karena mereka tahu apa yang dimaksud.

Begitu pula dengan kalimat “minal ‘â-idîn wal-fâ-izîn” tersebut yang merupakan penyingkatan dari do’a: “ja‘alanâ allôh wa iyyakum minal-‘â-idîn ilâl fithroh wa ja‘alanâ minal-fâ-izîn bil-jannah wan-najât minan-nâr”, atau:

“جعلنا الله وإياكم من العائدين إلى الفطرة وجعلنا من الفائزين بالجنة والنجاة من النار”

yang terjemahan bebasnya adalah: “semoga Allôh menjadikan kita semua termasuk ke dalam orang-orang yang kembali kepada fithroh, mendapat kemenangan berupa masuk Syurga dan selamat dari Neraka”.

Jadi, ucapan “minal-‘â-idîn wal-fâ-izîn” itu pada dasarnya adalah sebuah do’a, yang juga sering diucapkan oleh orang-orang ‘Arab, sebagaimana yang biasa didengar langsung oleh para asatidz yang sekolah dan tentunya bergaul dengan orang lokal di ‘Arab sana. Adapun kalau tidak gaul dengan orang lokal ‘Arab, gaulnya hanya dengan sesama anak Indo, mainnya hanya seputar kampus saja, maka tentunya tidak tahu.

Karenanya tidak perlu mempermasalahkan ucapan”minal-‘â-idîn wal-fâ-izîn” itu dengan berandai-andai atau bahkan memaknainya dengan makna-makna yang buruk.

📝 Intinya:

✓ Tidak perlu mempersulit masyarakat dengan melarang mereka mengucapkan ucapan “minal-‘â-idîn wal-fâ-izîn” tersebut.

✓ Bagi yang hendak mengucapkan “minal-‘â-idîn wal-fâ-izîn”, maka hendaknya tahu apa do’a lengkapnya berikut juga apa artinya.

Demikian, semoga bermanfaat.

نَسْأَلُ اللهَ الْسَلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=172922693379903&id=145550472783792